Sunday, 15 January 2012

Bumi Tujuh Purnama


by Netti Kurniati

Tunggu aku di purnama ketujuh, rajutlah benang cinta ini selama dan sejauh aku pergi. Hanya itu pintaku, tak banyak. Tugasmu hanya menungguku, menungguku di purnama ketujuh.

Namaku Zee, membacanya bukan seperti bahasa Inggris Zii. Bukan. Aku tak menyukainya. Seperti pengucapan lazim dalam bahasa Indonesia Zee, aku lebih menyukainya. Perempuan biasa yang mempunyai mimpi luar biasa. Merentang dalam jengkal bernama Bumi. Nama yang unik untuk seseorang, pria yang kucintai dalam bentuk dan pengertian berbeda, aku ingin pria ini menjadi penutup dalam kisah hidupku, aku mencintai pria ini dengan cara yang berbeda.
“Aku Zee,” menjabat tangan pria ini ingin berlama namun aku ragu.
“Nama yang unik, tapi aku yakin namaku jauh lebih aneh dari nama pria mana pun di bumi ini,” dia merengkuh jemariku, erat.
Pertemuan pertama yang akan menambah malamku tak kunjung pagi. Dia tidak tampan, tapi aku menyukai caranya menatapku. Aku menyukai caranya memberikan senyum dan aku selalu menyukai saat dia mampu mendengarkan semua ceritaku walau tanpa ada titik dalam setiap kalimatku.
“Seaneh apa namamu,” dudukku mulai gelisah, matanya lekat ke arahku. Aku membenci tatapannya sekaligus berbahagia.
“Bumi,” senyumnya meruntuhkan pertahanan keakuanku.
“Kau  turun di mana?” pertanyaan basa-basi yang makin menandakan kegelisahan luar biasa dalam dadaku.
Dia tak menjawab, hanya senyum. Lantas memandang ke arahku lagi-lagi lekat seolah hendak melumatku seketika. Aku melempar pandanganku ke arah lain. Melihat desakkan penumpang yang kian padat, pengap menyeruap. Anehnya aku menyukainya, tubuh kami begitu rapat di dalam angkutan kebanggaan Ibukota Jakarta ini.
“Kita selalu bertemu di sini, entah suatu kebetulan atau bukan, tapi senang berjumpa dan bisa mengenalmu hari ini, ini kartu namaku, aku berharap kau bisa menghubungiku kapan-kapan, sesempatmu,” dia menyerahkan kartu namanya, berdiri dan meninggalkanku di antara desakkan penumpang lainnya, tak ada kelanjutan apa pun. Hanya sampai di situ pertemuan hari itu.
Tunggu aku di purnama ketujuh, pupuklah cinta ini agar dia tetap subur dan biarkan cinta ini yang menemani hari-harimu hingga aku kembali di purnama ketujuh.
Pekerjaan merontokkan seluruh persendianku, setiba di rumah, aku langsung mengunci diri di kamar. Merebahkan tubuh di atas kasur. Lama aku menatap langit-langit kamar, mengelilingi setiap sudutnya. Aku gelisah dalam kegundahan luar biasa, ingin lelap tapi hatiku tak mampu terpejam. Tak mampu diajak ke dalam mimpi. Aku meraih tasku, mencari kartu nama yang diserahkan seorang pria yang sudah sering kujumpai di angkutan itu, tapi baru hari ini kami resmi saling berkenal.
Bumi, seperti namamu. Kau pusat segala semesta, menurutku. Zee.
Pesan singkat dengan kalimat aneh, sempurna terkirim, aku menyesal. Tapi, aku menanti Bumi membalas pesanku. Kian panjang malamku, entah apa yang membuatku ingin mengenal pria ini lebih jauh, tak biasanya aku mempercayai pria sedemikian rupa. Dua jam sudah tak ada balasan, hingga aku kalah oleh rasa kantuk, baju kerja masih menempel di tubuhku, bahkan stoking yang kugunakan masih melekat di kakiku.
Pagi menjemput, aku meraih ponsel yang masih dalam genggamanku. Kulihat layar ponsel, ada satu pesan yang menanti untuk kubaca.
Zee, pagi ini semburat matahari seperti matamu penuh binar. Semoga pagi ini aku bisa menatapnya, lagi.
Seperti ada energi yang mengalir, aku bergegas bersiap ke kantor. Tentunya, berharap dapat bertemu dengannya. Tak biasanya aku mematut diri selama ini di cermin, mana peduli aku dengan penampilan. Tapi, ada hal berbeda pagi ini. Matahari ingin bertemu dengan Bumi. Akan ada cerita berbeda setiap harinya.
                Halte ini, penuh sesak dipenuhi pekerja-pekerja sepertiku, aroma yang dikeluarkan tubuh orang-orang ini baur dengan asap dari knalpot kendaraan. Mataku menyapu seluruh halte, aku mencari tubuh besar dan tinggi itu, mencari sepasang mata yang membuat malamku semakin panjang.
                “Hei Zee,” ada yang menepuk pundakku.
                “Hei, Bumi,” aku gugup menjawab sapaannya.
                Kami antre bersama kerumunan penumpang lainnya, aku selalu menyukai tubuh kami yang sedekat dan serapat ini. Dia menggandeng tanganku, saat memasukki kendaraan umum seluruh umat di Jakarta ini. Aku tak menolaknya. Beruntung, kami dapat tempat duduk bersebelahan lagi, pagi ini.
                “Sepulang kantor, maukah kau menemaniku menikmati secangkir kopi hangat, aku yang akan mentraktirmu,” Bumi menawarkan hal yang tentu tak akan kutolak sama sekali.
                “Ya, kantorku di Sudirman, kita bertemu di mall terdekat, bagaimana?”
Bumi tersenyum, tanda setuju dengan usulku.
Tunggu aku di purnama ketujuh, seperti sinarnya, aku ingin cintamu lebih terang dari setiap purnama.
“Zee, aku selalu suka matamu, secara fisik mereka tak cantik. Tapi, entahlah selalu ada harapan dan pijar kesungguhan di dalamnya, aku menyukainya,” Bumi membuka percakapan sore ini, kami menyeruput kopi bersama menanti senja kesukaanku.
“Oh yah? Aku sendiri tak pernah mempercayai kalau aku memiliki mata seindah yang kau deskripsikan. Aku ingin keliling dunia, mengenal setiap jengkal dunia Tuhan. Kau tahu, aku selalu menyukai hal baru yang membuatku bisa merasakan hidup, hidup yang sesungguhnya,” panjang lebar aku menyerocos, seperti biasa terlihat antusias dan berapi-api.
                Bumi menggengam jemariku, sedikit pun aku tak memberikan gerakan aku menolak. Kami baur dalam riuh pengunjung café sore itu, tak banyak kata terucap. Tapi, perasaan ini tak ada yang mampu memaknai. Sore itu, tepat saat senja jatuh di pangkuan malam, hati kami baur dalam diam.
Tunggu aku di purnama ketujuh, percayalah. Aku berjanji, untuk kembali. Hanya untukmu.
Bumi mengantarku hingga ke depan pintu rumah, hanya memastikan aku baik-baik saja. Sepanjang jalan, aku lebih banyak bercerita dan dia menjadi pendengar setia untuk setiap kisah yang kadang menurutku sendiri tak pernah penting.
“Terima kasih untuk hari ini,” Bumi membisikkannya di telingaku dan mengecup keningku.
Aku tersenyum dan kali ini aku tak banyak berucap seperti biasanya, aku hanya menatap punggung Bumi yang ditelan remang malam ini. Malamku kian gelisah, seperti ada janji yang tak terpenuhi dan terselesaikan bila malam datang.
Aku mencintaimu seperti setianya Matahari pada Bumi
Kukirimkan pesan pendek itu untuk Bumi, lagi aku menanti balasan yang dapat membuat malam panjangku lebih menyenangkan. Hingga pagi menjemput, matahari semburat dari kamarku. Pesan balasanku, baru dibalas pagi ini, seperti biasa.
Zee, Aku mencintaimu seperti Bumi mencintai semestanya. Aku tunggu di tempat kemarin sepulang kerja, pagi ini aku pakai kendaraan sendiri.
Pesan yang membuat dadaku buncah dan berdegup tak beraturan, siapa pula wanita yang tak merasakan bahagia seperti ini. Aku jatuh, jatuh pada Bumi, terperosok ke dalam perasaan yang sampai detik ini tak mampu kupahami.
Tunggu aku di purnama ketujuh, percayalah aku selalu menemanimu. Hatiku, hatimu begitu dekat.
Aku tiba duluan di café  tempat biasa kami menghabiskan senja, menanti Bumi. Sudah secangkir kopi kuhabiskan mengusir kesendirian. Memperhatikan pengunjung mall yang lalu-lalang. Tak ada yang mampu menarik perhatianku, selain memikirkannya.
                “Sayang, maaf aku terlambat,” Bumi mencium keningku.
                “Kau mau pesan apa?” aku menawarkan minuman untuk Bumi.
                “Tak usah, aku hanya sebentar, semua serba terburu-buru sayang,” Bumi mulai gelisah di tempat duduknya.
                Aku hanya menatap matanya lekat, kenapa tiba-tiba aku tak menginginkan pertemuan ini. Bumi tak seperti biasanya seresah ini, biasanya dia sangat tenang dan dapat mengendalikan situasi dengan sempurna. Tapi tidak kali ini.
                “Zee, aku harus pindah,” Bumi mengucapkan kalimat itu, yang kudengar samar dan bahkan aku seperti salah dengar.
                “Pindah apa?” aku berusaha mengendalikan perasaanku.
                “Aku dipindahkan ke Kota Medan selama tiga tahun,”
                “Lantas?”
                “Kau tahu Zee, aku sangat mencintaimu. Maukah kau menanti kepulanganku. Menungguku selama itu, sampai nanti setelah aku selesai bertugas, kita akan bangun hidup bersama-sama, aku akan meminangmu, tapi setelah kepulanganku,”
                “Haruskah aku menunggumu? Yakinkan aku, kalau memang kau adalah puisi terakhir kehidupanku.”
                “Zee, tunggulah aku di purnama ketujuh untuk menjumpaimu, tepat di purnama ketujuh aku akan mengikatkan diriku, utuh untukmu. Tugasmu di sini hanya memupuk cinta kita bersama, hanya itu. Tunggu aku di purnama ketujuh,” Bumi meraih jemari dan mengecup tanganku.
                “Bumi, aku selalu mencintaimu. Aku akan menunggumu, selalu. Seperti setianya Matahari pada Bumi, aku akan menanti kepulanganmu di purnama ketujuh,” aku menyakinkan Bumi.
Senja hari itu tak cantik seperti biasanya, aku semakin membenci malam yang pekat. Seperti ada janji-janji yang tak tuntas, seperti ada mimpi yang tak terselesaikan. Bumi mengantarku dan mulai malam ini, dia akan jauh dalam rentangan jarak ratusan kilometer dariku. Purnama ketujuh seperti janjinya.
Tunggu aku di purnama ketujuh, yakinlah sepekat apa pun malam, aku di sini selalu melukis langit dengan warna merah seperti hatimu.
                Bumi, rindu ini menyesakkanku. Rindu ini lekat seperti getah dan pekat seperti malam, kau selalu berpesan agar aku menunggumu di purnama ketujuh. Aku menanti dengan segala setiaku di sini. Aku menantimu. Malam ini, tepat purnama ketujuh aku meringkuk di kamar, menunggu dering telpon darimu. Kuraih ponsel di bawah bantalku, aku yang akan menelponmu, sekedar memastikan kau kembali ke kota ini.
“Halo,” suara di seberang sana menjawab teleponku, lantas kenapa bukan suaramu, kenapa perempuan yang menyapaku, selarut ini.
                “Bumi ada?”
                “Maaf, saya isterinya. Ada pesan, Mas Bumi sedang ke luar sebentar.”
                Kuletakkan dan kubiarkan ponselku di sebelahku. Masih nada tersambung. Samar kudengar di ujung sana suaranya, Bumi.
Aku masih menunggumu di purnama ketujuh. Dan malam ini tepat purnama ketujuh, pipiku hangat. Aku mencintaimu, seperti setianya matahari pada Bumi.
NK-5 November 2011



Tidak Lebih Dari Mimpi

by Hira Listya Pinastika

Sudah 5 tahun Glee tinggal di New York. Hari-harinya selalu dilalui dengan ceria. Hatinya sudah sangat menyatu dengan sekolah disana. Ia sangat sayang kepada teman-temannya. Ya, pantas saja meninggalkan kota itu bukanlah hal yang mudah buat Glee. Di sekolah itu Glee sangat bahagia. Glee nggak yakin, apa setelah pulang dari New York dia bisa dapet kehidupan yang Glee mau seperti sekarang ini.
                “ Cepetan dong  Glee ! telat nih ! lagian lo lelet banget sih.”, omel Rosa seperti biasa.
                “ Yee … gue nggak lama. Tapi, kelamaan nunggu di halte bus.”, bela Glee
                “ aaahh ,,, yaudah deh. Cepetan !! “, kata Rosa
                Akhirnya, mereka sampai juga ke sekolah, meski mereka terlambat. Rosa segera masuk ke kelasnya, dan Glee pun begitu. Mereka tidak sekelas. Rosa lebih tua. Sesampai di kelas , Glee yang tadinya tergesa-gesa itu , langsung berubah menjadi pendiam sambil menatap teman-temannya yang sedang bercanda tawa. Ia tiba-tiba teringat sesuatu.
                “ bentar lagi, gue pulang. Nggak seru banget deh. Gue pasti kangen banget sama kelas gue yang ngga pernah sepi ini.”, katanya dalam hati sambil berjalan masuk ke kelas.
                Glee masuk ke kelas sambil diam terus. Tapi, kalau sudah masuk ke kelas itu, nggak akan ada yang tahan lama untuk diam. Pelajaran berlangsung seperti biasanya.
Krriiinggg !!
                Bel tanda istirahat pertama sudah berbunyi. Biasanya, Rosa selalu nyamperin ke kelas Glee. Glee selalu menyempatkan waktu itu buat curhat sama Rosa.
                “ Ros, gue bener-bener nggak bisa bayangin, gue harus pindah dari sini. Gue udah terlanjur suka banget sama New York. Dan juga karena Nano,  Ros ”, kata Glee memulai pembicaraan
                “ iya, gue tau. Dan gue juga pasti sedih banget kehilangan lo nanti.  Lo masih mikirin Nano ? lo nggak bisa lupain dia ?”, kata Rosa menenangkan
                “ hadduhh Rosa, ya nggak lah. Gue nggak mau lupain Nano & gue nggak bisa lupain dia.”, kata Glee
                “ ya, menurut gue , lo sabar ya .. karena, gue juga nggak  tau apa yang bisa gue lakuin buat lo.”, kata Rosa.
Krrriingg !!
                “ Glee, udah masuk tuh. Gue langsung ke kelas gue ya, abis ini pelajaran Mr. Jack soalnya, bye …”, kata Rosa seraya berlari menuju kelasnya.
                Selama pelajaran ini, Glee agak sedikit murung. Sahabatnya di kelas selalu menggodanya agar tersenyum. Memang, Glee paling nggak bisa nahan ketawa kalau mata atau mukanya diliatin. Buat Glee, dia bisa ketawa terbahak-bahak  kalau lagi sama sahabat-sahabatnya itu.  Ya, mau nggak mau Glee sedikit melupakan kesedihannya.
Kringgg !!
                 Bel berbunyi, pulang sekolah. Buat Glee, dia nggak mau menghabiskan waktunya hanya untuk bersendiri. Jadi, lebih baik Glee berkumpul bersama teman-temannya.
        Tapi, semua itu nggak seperti yang Glee mau. Ada yang menghindar dari Glee. Sebenarnya, Glee tidak terlalu memperdulikan itu. Karena, semua orang kan punya masalah. Meski kali ini, masalah Glee sangat sulit.
                Tetapi, hari ini Glee tidak seperti biasanya. Dia termenung di kelas membaca cerita sambil mendengarkan musik. Rosa datang.
                “ kebiasaan deh, suka sendirian. Lagi pada rame tuh disana. Ngapain lo kesini.”, sapa Rosa
                “Males gue.. haha udah sana . lagi pengen sendiri gue.”, kata Glee sedikit ketawa karena melihat muka Rosa yang kelihatannya sebel


__________ pulang ke rumah __________



                Di kamar Glee, ia bengong . Akhirnya, ia mengambil gitarnya, lalu menyanyi lagu Semua Tentang Kita. Tanpa terasa air matanya jatuh. Memikirkan semuanya.
                “bentar lagi gue pulang. Gue nggak siap. Nggak siap ninggalin sekolah. Gue ngga bisa bayangin. Di waktu gue di New York yang tinggal satu bulan  ini, hati gue nyesek banget. Bisa, gue ninggalin semua disini ? “, katanya dalam hati sambil terus memainkan lagu itu.
                Tapi, ia teringat akan waktu . Besok sekolah . Glee segera menaruh gitarnya dan menuju tempat tidur. Semenit kemudian, sudah terdengar dengkurannya .


__________ besok pagi __________



                 Glee bangun agak terlambat . Dia sepertinya kecapean .       
       " Waduuhh ,,, alamat kena omel ama Rosa lagi nih. Dia pasti udah nunggu di halte", katanya dalam hati.
       Dan benar saja, Rosa sudah menunggu Glee di halte bus . Tapi, hari ini Glee beruntung . Saat ia tiba di halte bus, bus menuju sekolah juga tiba disana .
                 " Ros, sorry ya . Gue bangunnya telat . Hehehe ", kata Glee sambil nyengir.  Rosa diam saja. Dia hanya menghembuskan nafas panjang, tanda kalo Rosa udah cape ngomel.

       Tiba di sekolah, mereka langsung buru-buru masuk kelas karena sudah terlambat. Hari itu di kelas Glee berbeda. Semua terdiam saat Glee masuk . Ada yang nyengir sendiri, ada yang nunduk, ada yang baca buku. Ya ... Pokonya tidak seperti biasanya. Glee pun jadi tidak seperti biasanya juga. Tapi, dia tidak berpikir apa-apa.
         Hari-hari Glee di sekolah belakangan ini, biasa saja. Dia tidak merasakan keramaian kelasnya, yang biasanya setiap hari tidak pernah sepi itu. Entahlah apa yang terjadi.
          Suatu saat Glee merasa bahwa ada yang menghindar darinya. Entah siapa. Ya, yang jelas itu juga mengganjal di hati Glee. Meski dia tidak terlalu memusingkan hal itu, tapi hal itu selalu datang untuk membuat Glee pusing.
           Tapi, terkadang keganjalan dihatinya hilang sebentar, karna sahabat-sahabat kelasnya yang tak henti-hentinya membuat Glee tertawa kembali.
           Sebenarnya, ekspresi yang dia tunjukkan belum tentu mewakili hatinya. Tapi, akhir-akhir ini, dia tidak bisa bersandiwara untuk menutup-nutupi.
      Sewaktu selesai pelajaran, sekelas Glee tampak sangat sedih.
          " Leeee .... Kalian kenapa sih ? Tumben banget sedih. Biasanya, kan rame banget ...", kata Glee kepada teman-temannya.

         " Mmm ngga papa ko Glee. Gue cuma sedih aja bentar lagi lo mau pulang. Nggak serulah, nggak ada yang diisengin lagi.", kata Berta
       Berta adalah sahabat  Glee yang paling setia sama Glee. Memang, Berta nggak suka curhat-curhatan gitu. Tapi, mereka memiliki hobi yang sama. Yaitu, main bola dan main gitar bareng. Mereka cocok banget. Buat Glee, Berta sahabat Glee yang paling seru.
     " Hhahaha .... Pliss deh . Jangan sedih gitulah .... Kita masih bisa chatting , bbman. Tenang aja kali Ta .", kata Glee
       Sebenarnya, Glee merasakan hal yang lebih daripada Berta. Jauh lebih sedih.
      " Pokoknya kita sahabatan terus deh. Tenang aja, nggak bakal lupain lo ! ",kata Glee sambil memeluk Berta.
      " Iyalahh ... Ampe aja lo lupain, awas lo ! Hahaha , yaudah ngaji yuk. Udah ditungguin ama Miss Alifah.", kata Berta
      Setelah selesai mengaji, mereka langsung diajak anak yang lain untuk main salju. Mereka pun langsung mengenakan jaket dan keluar. Tak lupa, Glee memasang lagu di bbnya dan mendengarkan lagu. Di luar, semua tampak ceria. Begitu pula Glee meski hatinya belum sepenuhnya ceria. Tapi, kali ini Glee tidak mau menyianyiakan waktunya bersama teman-temannya hanya untuk bersedih.
        Ya, mereka tampak sangat ceria. Selesai itu, Glee kembali ke sekolah beristirahat sambil menunggu kedua orangtuannya yang bekerja di kedutaan. Tak lama kemudian, Glee pulang ke rumahnya. Ia memandang ke sekitar jalan.
       "Akankah aku bisa kembali menginjak disini lagi ? Berlari, bermain disini lagi ? Akankah mereka semua mengingatku. Temanku, sahabatku ? ", katanya dalam hati
      Seperti biasa, setelah pulang ia belajar, mandi, makan, dan tidur seperti biasa.

     Tapi, ketika ingin tidur . Otaknya tiba-tiba penuh dengan nama Nano.
     " Udahlah Glee !! Kenapa ngga bisa lupain dia sih ? Sampai kapan gue kayak gini terus ?? Sampai kapan gue nyesek gini ? Sabar, sabar deh", katanya dalam hati sambil memejamkan mata.
                Tak terasa, airmatanya jatuh sambil tidur. Dengan mimpi indahnya bersama Nano. Semua terwujud . Ya, semua yang Glee inginkan. Meski cuma mimpi, nggak lebih.



Inikah Indonesia


by Raisa Tatum Saka

Ya… inilah Indonesia

Pemerintah yang menelantarkan rakyat

Tanpa peduli akan kesengsaraan


Inilah Indonesia

Pengemis di mana-mana

Memperlihatkan kesengsaraan hidupnya


Apakah orang-orang peduli akan mereka

Mereka yang telantar

Mereka yang terjerat kemiskinan


Inikah bangsa kita

Bangsa Indonesia

Bangsa yang tak peduli dengan  sesama

Bangsa yang tak peduli akan kesengsaraan mereka  

Pengemis tua


by M. Perwil Ashari Hakim

Lihatlah wajah pengemis tua

Dengan wajah sedih penuh derita

Membuat orang merasa iba


Dimana kepedulian pemerintah

Mestinya lebih peduli pada rakyatnya

Memberi lapangan pekerjaan

Juga tempat tinggal yang pantas


Sebagai sesama

Kita harus saling menolong

Mari membantu pengemis tua

Demi Indonesia sejahtera

Waktu

by Hira Listya Pinastika


Ia berkuasa
Mampu mempertemukan
Mampu memisahkan
Tak ada yang mampu memaksanya

Andai aku bisa
Andai aku bisa membunuhmu
Andai aku bisa memutarmu
Hingga tak pernah kenal kata berpisah

Menjadi saksi peristiwa
Menjadi saksi kisahku
Melalui semua kenangan indah

Tetapi kenangan
Tetaplah kenangan
Takkan pernah kembali

Waktu selalu berjalan
Tak pernah memandang ke belakang
Waktu terus berputar
Menanti hari esok yang tak kunjung datang
Menanti waktu lain





Akankah semua in dapat berubah ?
Menjadi kisah awal diwaktu itu ?



Tidak
Waktu tidak akan kembali
Kita akan bertemu
Pada lingkaran waktu yang berbeda

Salju

by Shakyla Sarah Albani


warnamu putih seperti kapas
berterbangan dengan bebas
butiranmu sangat lembut
mirip seperti es serut
rasamu sangat dingin
membuatku ingin bermain