Friday, 17 February 2012

Pudarnya Warna Balonku


by Gibran Qadaranta

Masa kecil adalah masa indah dan masa yang sangat suci. Mengapa begitu? Indah karena pada masa itu anak-anak dengan riangnya bermain bersama tanpa masalah ditemani irngan lagu-lagu anak yang ceria. Suci karena pada masa itu hati anak pada umumnya masih bersih dari keburukan dan pikirannya belum terkontaminasi oleh keburukan dunia, tapi sangat berpotensi tercemar karena pemikirannya yang masih polos.
Pasar musik Indonesia kini dipenuhi oleh lagu-lagu yang diperuntukkan untuk pasar remaja. Band-band,  boyband dan girlband banyak memeriahkan musik Indonesia. Lalu bagaimana dengan nasib anak-anak Indonesia yang seharusnya menikmati lagu-lagu bernuansa anak-anak dan bukan yang berbau cinta dan lagu-lagu dewasa? Miris jika kita mengetahui anak-anak sekarang lebih mengenal lagu-lagu seperti; I Heart You, Mau Dibawa Kemana daripada lagu Balonku, Naik Kereta Api dan lainnya.
            Hal ini seharusnya menjadi perhatian keluarga, khususnya orang tua untuk lebih memperhatikan dan membatasi anak-anaknya dalam memilih dan mendengarkan lagu. Tidak bisa dipungkiri lagi jika anak mengetahui lagu-lagu remaja dan dewasa tersebut karena pengaruh lingkungannya. Apalagi anak-anak memiliki kecenderungan meniru dan mencontoh yang lebih dewasa.
Oleh karena itu, ini juga menjadi tanggung jawab kita sebagai yang lebih dewasa untuk dapat menahan diri dalam mendengar dan menyanyikan lagu-lagu remaja dan dewasa pada saat ada anak kecil di dekat kita, karena secara tidak langsung kita telah menanamkan lagu-lagu tersebut kepada anak-anak.
Tanpa kita sadari, lirik-lirik yang terkadang sangat tidak pantas didengar oleh anak-anak bisa merusak dan menyelewengkan pemahaman mereka dan merusak nilai moral anak-anak. Menurut penelitian yang diterbitkan “Springer's Journal Sexuality and Culture”, lagu dewasa dapat berdampak terhadap psikologis anak. Seperti yang dilansir oleh Times of India, usia anak-anak atau balita merupakan usia terbaik untuk menyerap informasi. Lagu-lagu beserta lirik yang ada di dalamnya bisa dengan mudah terserap oleh otak anak dan parahnya lagi dianggap sebagai pengetahuan. Hal ini akan menumbuhkan rasa ingin tahu pada diri anak dan secara tidak sadar mereka juga akan bertanya arti dari lirik lagu yang seharusnya belum mereka kenal. Lebih parah lagi setelah mereka mengetahui arti dari lirik tersbut dan mulai berkeinginan untuk mempraktikkannya. Tidak heran jika baru-baru ini banyak kita temui kasus pelecehan seksual yang terjadi di lingkungan anak-anak.
Demi generasi penerus, kita harus mampu berkorban sedikit untuk berjuang dan menghidupi kembali lagu-lagu anak. Lupakan sejenak keinginan pasar dan mulai menaruh perhatian khusus kepada anak-anak. Semestinya, kita juga tidak perlu malu untuk mengarang lagu-lagu anak toh lagu tersebut tidak memberikan dampak negatif kepada masyarakta. Justru seharusnya kita bangga menjadi pengarang lagu anak, karena kita secara tidak langsung telah memeriahkan masa kecil sebagian besar anak lewat lagu karangan kita. Cara lain adalah kita harus berjuang dalam menghidupi lagi lagu-lagu khusus untuk anak-anak yang sempat mati suri. Kita membutuhkan lebih banyak lagi grup-grup musik yang konsisten membuat lagu khusus untuk anak-anak.
Selain itu, media televisi juga perlu ikut serta mendukung gerakan ini dengan meminimalisir penyiaran lagu-lagu remaja dan dewasa dan mulai mengisi siaran dengan pemutaran lagu-lagu anak. Rating mungkin turun, tapi dalam jangka waktu yang tidak lama akan naik kembali karena para keluarga khususnya orang tua akan menyadari dampak positif yang terjadi kepada anak-anak mereka.
Jika kita memiliki keterbatasan skill dalam mengarang lagu anak, cukup kita lakukan modernisasi terhadap lagu-lagu anak yang sudah ada. Selain tidak memakan waktu yang lama hal ini cukup untuk memunculkan kembali lagu-lagu anak ke permukaan pasar musik Indonesia. Dengan ini keindahan masa kecil anak kembali meriah tanpa ternodai dan mereka telah memperoleh haknya sebagai anak Indonesia. Toh, perubahan yang baik walaupun kecil akan membawa kebaikan juga meskipun mungil

No comments:

Post a Comment