by Gibran Qadaranta
Masa kecil
adalah masa indah dan masa yang sangat suci. Mengapa begitu? Indah karena pada
masa itu anak-anak dengan riangnya bermain bersama tanpa masalah ditemani
irngan lagu-lagu anak yang ceria. Suci karena pada masa itu hati anak pada
umumnya masih bersih dari keburukan dan pikirannya belum terkontaminasi oleh
keburukan dunia, tapi sangat berpotensi tercemar karena pemikirannya yang masih
polos.
Pasar musik
Indonesia kini dipenuhi oleh lagu-lagu yang diperuntukkan untuk pasar remaja.
Band-band, boyband dan girlband
banyak memeriahkan musik Indonesia. Lalu bagaimana dengan nasib anak-anak
Indonesia yang seharusnya menikmati lagu-lagu bernuansa anak-anak dan bukan
yang berbau cinta dan lagu-lagu dewasa? Miris jika kita mengetahui anak-anak
sekarang lebih mengenal lagu-lagu seperti; I Heart You, Mau Dibawa Kemana
daripada lagu Balonku, Naik Kereta Api dan lainnya.
Hal ini seharusnya menjadi perhatian
keluarga, khususnya orang tua untuk lebih memperhatikan dan membatasi
anak-anaknya dalam memilih dan mendengarkan lagu. Tidak bisa dipungkiri lagi
jika anak mengetahui lagu-lagu remaja dan
dewasa tersebut karena pengaruh lingkungannya. Apalagi anak-anak memiliki
kecenderungan meniru dan mencontoh yang lebih dewasa.
Oleh karena
itu, ini juga menjadi tanggung jawab kita sebagai yang lebih dewasa untuk dapat
menahan diri dalam mendengar dan menyanyikan lagu-lagu remaja dan dewasa pada
saat ada anak kecil di dekat kita, karena secara tidak langsung kita telah
menanamkan lagu-lagu tersebut kepada anak-anak.
Tanpa kita
sadari, lirik-lirik yang terkadang sangat tidak pantas didengar oleh anak-anak
bisa merusak dan menyelewengkan pemahaman mereka dan merusak nilai moral
anak-anak. Menurut penelitian yang diterbitkan “Springer's Journal Sexuality and Culture”, lagu dewasa dapat
berdampak terhadap psikologis anak. Seperti yang dilansir oleh Times of India, usia
anak-anak atau balita merupakan usia terbaik untuk menyerap informasi.
Lagu-lagu beserta lirik yang ada di dalamnya bisa dengan mudah terserap oleh
otak anak dan parahnya lagi dianggap sebagai pengetahuan. Hal ini akan
menumbuhkan rasa ingin tahu pada diri anak dan secara tidak sadar mereka juga
akan bertanya arti dari lirik lagu yang seharusnya belum mereka kenal. Lebih
parah lagi setelah mereka mengetahui arti dari lirik tersbut dan mulai
berkeinginan untuk mempraktikkannya. Tidak heran jika baru-baru ini banyak kita
temui kasus pelecehan seksual yang terjadi di lingkungan anak-anak.
Demi
generasi penerus, kita harus mampu berkorban sedikit untuk berjuang dan
menghidupi kembali lagu-lagu anak. Lupakan sejenak keinginan pasar dan mulai
menaruh perhatian khusus kepada anak-anak. Semestinya, kita juga tidak perlu
malu untuk mengarang lagu-lagu anak toh lagu tersebut tidak memberikan dampak
negatif kepada masyarakta. Justru seharusnya kita bangga menjadi pengarang lagu
anak, karena kita secara tidak langsung telah memeriahkan masa kecil sebagian
besar anak lewat lagu karangan kita. Cara lain adalah kita harus berjuang dalam
menghidupi lagi lagu-lagu khusus untuk anak-anak yang sempat mati suri. Kita membutuhkan lebih banyak
lagi grup-grup musik yang konsisten membuat lagu khusus untuk anak-anak.
Selain itu,
media televisi juga perlu ikut serta mendukung gerakan ini dengan meminimalisir
penyiaran lagu-lagu remaja dan dewasa dan mulai mengisi siaran dengan pemutaran
lagu-lagu anak. Rating mungkin turun, tapi dalam jangka waktu yang tidak lama
akan naik kembali karena para keluarga khususnya orang tua akan menyadari
dampak positif yang terjadi kepada anak-anak mereka.
Jika kita
memiliki keterbatasan skill dalam
mengarang lagu anak, cukup kita lakukan modernisasi terhadap lagu-lagu anak
yang sudah ada. Selain tidak memakan waktu yang lama hal ini cukup untuk
memunculkan kembali lagu-lagu anak ke permukaan pasar musik Indonesia. Dengan
ini keindahan masa kecil anak kembali meriah tanpa ternodai dan mereka telah
memperoleh haknya sebagai anak Indonesia.
Toh, perubahan yang baik walaupun kecil akan membawa kebaikan juga meskipun
mungil
No comments:
Post a Comment