by Netti Kurniati
Tunggu aku di purnama ketujuh, rajutlah
benang cinta ini selama dan sejauh aku pergi. Hanya itu pintaku, tak banyak.
Tugasmu hanya menungguku, menungguku di purnama ketujuh.
Namaku Zee, membacanya bukan seperti
bahasa Inggris Zii. Bukan. Aku tak menyukainya. Seperti pengucapan lazim dalam
bahasa Indonesia Zee, aku lebih menyukainya. Perempuan biasa yang mempunyai
mimpi luar biasa. Merentang dalam jengkal bernama Bumi. Nama yang unik untuk
seseorang, pria yang kucintai dalam bentuk dan pengertian berbeda, aku ingin
pria ini menjadi penutup dalam kisah hidupku, aku mencintai pria ini dengan
cara yang berbeda.
“Aku Zee,” menjabat tangan pria ini ingin
berlama namun aku ragu.
“Nama yang unik, tapi aku yakin namaku
jauh lebih aneh dari nama pria mana pun di bumi ini,” dia merengkuh jemariku,
erat.
Pertemuan pertama yang akan menambah
malamku tak kunjung pagi. Dia tidak tampan, tapi aku menyukai caranya
menatapku. Aku menyukai caranya memberikan senyum dan aku selalu menyukai saat
dia mampu mendengarkan semua ceritaku walau tanpa ada titik dalam setiap
kalimatku.
“Seaneh apa namamu,” dudukku mulai
gelisah, matanya lekat ke arahku. Aku membenci tatapannya sekaligus berbahagia.
“Bumi,” senyumnya meruntuhkan pertahanan
keakuanku.
“Kau turun di mana?” pertanyaan basa-basi
yang makin menandakan kegelisahan luar biasa dalam dadaku.
Dia tak menjawab, hanya senyum. Lantas
memandang ke arahku lagi-lagi lekat seolah hendak melumatku seketika. Aku
melempar pandanganku ke arah lain. Melihat desakkan penumpang yang kian padat,
pengap menyeruap. Anehnya aku menyukainya, tubuh kami begitu rapat di dalam
angkutan kebanggaan Ibukota Jakarta ini.
“Kita selalu bertemu di sini, entah suatu
kebetulan atau bukan, tapi senang berjumpa dan bisa mengenalmu hari ini, ini
kartu namaku, aku berharap kau bisa menghubungiku kapan-kapan, sesempatmu,” dia
menyerahkan kartu namanya, berdiri dan meninggalkanku di antara desakkan
penumpang lainnya, tak ada kelanjutan apa pun. Hanya sampai di situ pertemuan
hari itu.
Tunggu aku di purnama ketujuh, pupuklah
cinta ini agar dia tetap subur dan biarkan cinta ini yang menemani hari-harimu
hingga aku kembali di purnama ketujuh.
Pekerjaan merontokkan seluruh
persendianku, setiba di rumah, aku langsung mengunci diri di kamar. Merebahkan
tubuh di atas kasur. Lama aku menatap langit-langit kamar, mengelilingi setiap
sudutnya. Aku gelisah dalam kegundahan luar biasa, ingin lelap tapi hatiku tak
mampu terpejam. Tak mampu diajak ke dalam mimpi. Aku meraih tasku, mencari
kartu nama yang diserahkan seorang pria yang sudah sering kujumpai di angkutan
itu, tapi baru hari ini kami resmi saling berkenal.
Bumi, seperti namamu. Kau pusat segala
semesta, menurutku. Zee.
Pesan singkat dengan kalimat aneh,
sempurna terkirim, aku menyesal. Tapi, aku menanti Bumi membalas pesanku. Kian
panjang malamku, entah apa yang membuatku ingin mengenal pria ini lebih jauh,
tak biasanya aku mempercayai pria sedemikian rupa. Dua jam sudah tak ada
balasan, hingga aku kalah oleh rasa kantuk, baju kerja masih menempel di
tubuhku, bahkan stoking yang kugunakan masih melekat di
kakiku.
Pagi menjemput, aku meraih ponsel yang
masih dalam genggamanku. Kulihat layar ponsel, ada satu pesan yang menanti
untuk kubaca.
Zee, pagi ini semburat matahari seperti
matamu penuh binar. Semoga pagi ini aku bisa menatapnya, lagi.
Seperti ada energi yang mengalir, aku
bergegas bersiap ke kantor. Tentunya, berharap dapat bertemu dengannya. Tak
biasanya aku mematut diri selama ini di cermin, mana peduli aku dengan
penampilan. Tapi, ada hal berbeda pagi ini. Matahari ingin bertemu dengan Bumi.
Akan ada cerita berbeda setiap harinya.
Halte ini, penuh sesak dipenuhi pekerja-pekerja sepertiku, aroma yang
dikeluarkan tubuh orang-orang ini baur dengan asap dari knalpot kendaraan.
Mataku menyapu seluruh halte, aku mencari tubuh besar dan tinggi itu, mencari
sepasang mata yang membuat malamku semakin panjang.
“Hei Zee,” ada yang menepuk pundakku.
“Hei, Bumi,” aku gugup menjawab sapaannya.
Kami antre bersama kerumunan penumpang lainnya, aku selalu menyukai tubuh kami
yang sedekat dan serapat ini. Dia menggandeng tanganku, saat memasukki
kendaraan umum seluruh umat di Jakarta ini. Aku tak menolaknya. Beruntung, kami
dapat tempat duduk bersebelahan lagi, pagi ini.
“Sepulang kantor, maukah kau menemaniku menikmati secangkir kopi hangat, aku
yang akan mentraktirmu,” Bumi menawarkan hal yang tentu tak akan kutolak sama
sekali.
“Ya, kantorku di Sudirman, kita bertemu di mall terdekat, bagaimana?”
Bumi tersenyum, tanda setuju dengan
usulku.
Tunggu aku di purnama ketujuh, seperti
sinarnya, aku ingin cintamu lebih terang dari setiap purnama.
“Zee, aku selalu suka matamu, secara fisik
mereka tak cantik. Tapi, entahlah selalu ada harapan dan pijar kesungguhan di
dalamnya, aku menyukainya,” Bumi membuka percakapan sore ini, kami menyeruput
kopi bersama menanti senja kesukaanku.
“Oh yah? Aku sendiri tak pernah
mempercayai kalau aku memiliki mata seindah yang kau deskripsikan. Aku ingin
keliling dunia, mengenal setiap jengkal dunia Tuhan. Kau tahu, aku selalu
menyukai hal baru yang membuatku bisa merasakan hidup, hidup yang
sesungguhnya,” panjang lebar aku menyerocos, seperti biasa terlihat antusias
dan berapi-api.
Bumi menggengam jemariku, sedikit pun aku tak memberikan gerakan aku menolak.
Kami baur dalam riuh pengunjung café sore itu, tak banyak kata terucap.
Tapi, perasaan ini tak ada yang mampu memaknai. Sore itu, tepat saat senja
jatuh di pangkuan malam, hati kami baur dalam diam.
Tunggu aku di purnama ketujuh, percayalah.
Aku berjanji, untuk kembali. Hanya untukmu.
Bumi mengantarku hingga ke depan pintu
rumah, hanya memastikan aku baik-baik saja. Sepanjang jalan, aku lebih banyak
bercerita dan dia menjadi pendengar setia untuk setiap kisah yang kadang
menurutku sendiri tak pernah penting.
“Terima kasih untuk hari ini,” Bumi
membisikkannya di telingaku dan mengecup keningku.
Aku tersenyum dan kali ini aku tak banyak
berucap seperti biasanya, aku hanya menatap punggung Bumi yang ditelan remang
malam ini. Malamku kian gelisah, seperti ada janji yang tak terpenuhi dan
terselesaikan bila malam datang.
Aku mencintaimu seperti setianya Matahari
pada Bumi
Kukirimkan pesan pendek itu untuk Bumi,
lagi aku menanti balasan yang dapat membuat malam panjangku lebih menyenangkan.
Hingga pagi menjemput, matahari semburat dari kamarku. Pesan balasanku, baru
dibalas pagi ini, seperti biasa.
Zee, Aku mencintaimu seperti Bumi
mencintai semestanya. Aku tunggu di tempat kemarin sepulang kerja, pagi ini aku
pakai kendaraan sendiri.
Pesan yang membuat dadaku buncah dan
berdegup tak beraturan, siapa pula wanita yang tak merasakan bahagia seperti
ini. Aku jatuh, jatuh pada Bumi, terperosok ke dalam perasaan yang sampai detik
ini tak mampu kupahami.
Tunggu aku di purnama ketujuh, percayalah
aku selalu menemanimu. Hatiku, hatimu begitu dekat.
Aku tiba duluan di café tempat biasa kami
menghabiskan senja, menanti Bumi. Sudah secangkir kopi kuhabiskan mengusir
kesendirian. Memperhatikan pengunjung mall yang lalu-lalang. Tak ada yang
mampu menarik perhatianku, selain memikirkannya.
“Sayang, maaf aku terlambat,” Bumi mencium keningku.
“Kau mau pesan apa?” aku menawarkan minuman untuk Bumi.
“Tak usah, aku hanya sebentar, semua serba terburu-buru sayang,” Bumi mulai
gelisah di tempat duduknya.
Aku hanya menatap matanya lekat, kenapa tiba-tiba aku tak menginginkan
pertemuan ini. Bumi tak seperti biasanya seresah ini, biasanya dia sangat
tenang dan dapat mengendalikan situasi dengan sempurna. Tapi tidak kali ini.
“Zee, aku harus pindah,” Bumi mengucapkan kalimat itu, yang kudengar samar dan
bahkan aku seperti salah dengar.
“Pindah apa?” aku berusaha mengendalikan perasaanku.
“Aku dipindahkan ke Kota Medan selama tiga tahun,”
“Lantas?”
“Kau tahu Zee, aku sangat mencintaimu. Maukah kau menanti kepulanganku.
Menungguku selama itu, sampai nanti setelah aku selesai bertugas, kita akan bangun
hidup bersama-sama, aku akan meminangmu, tapi setelah kepulanganku,”
“Haruskah aku menunggumu? Yakinkan aku, kalau memang kau adalah puisi terakhir
kehidupanku.”
“Zee, tunggulah aku di purnama ketujuh untuk menjumpaimu, tepat di purnama
ketujuh aku akan mengikatkan diriku, utuh untukmu. Tugasmu di sini hanya
memupuk cinta kita bersama, hanya itu. Tunggu aku di purnama ketujuh,” Bumi
meraih jemari dan mengecup tanganku.
“Bumi, aku selalu mencintaimu. Aku akan menunggumu, selalu. Seperti setianya
Matahari pada Bumi, aku akan menanti kepulanganmu di purnama ketujuh,” aku
menyakinkan Bumi.
Senja hari itu tak cantik seperti
biasanya, aku semakin membenci malam yang pekat. Seperti ada janji-janji yang
tak tuntas, seperti ada mimpi yang tak terselesaikan. Bumi mengantarku dan
mulai malam ini, dia akan jauh dalam rentangan jarak ratusan kilometer dariku.
Purnama ketujuh seperti janjinya.
Tunggu aku di purnama ketujuh, yakinlah
sepekat apa pun malam, aku di sini selalu melukis langit dengan warna merah
seperti hatimu.
Bumi, rindu ini menyesakkanku. Rindu ini lekat seperti getah dan pekat seperti
malam, kau selalu berpesan agar aku menunggumu di purnama ketujuh. Aku menanti
dengan segala setiaku di sini. Aku menantimu. Malam ini, tepat purnama ketujuh
aku meringkuk di kamar, menunggu dering telpon darimu. Kuraih ponsel di bawah
bantalku, aku yang akan menelponmu, sekedar memastikan kau kembali ke kota ini.
“Halo,” suara di seberang sana menjawab
teleponku, lantas kenapa bukan suaramu, kenapa perempuan yang menyapaku,
selarut ini.
“Bumi ada?”
“Maaf, saya isterinya. Ada pesan, Mas Bumi sedang ke luar sebentar.”
Kuletakkan dan kubiarkan ponselku di sebelahku. Masih nada tersambung. Samar
kudengar di ujung sana suaranya, Bumi.
Aku masih menunggumu di purnama ketujuh.
Dan malam ini tepat purnama ketujuh, pipiku hangat. Aku mencintaimu, seperti
setianya matahari pada Bumi.
NK-5 November 2011
No comments:
Post a Comment