Friday, 18 November 2011

Pahlawanku


by Tari
Kelas  1 SD

Oh… pahlawan
Engkau adalah pejuang
Pembela bangsa dan negara Indonesia

Oh… pahlawan
Jasamu tak terkira
Bagi rakyat Indonesia

Avalanche


by Netti Kurniati

Salju
Bumi merengkuhmu
Walau dingin menjalar hingga lapisan bawah
Bumi setia menengadah
Memangkumu penuh cinta

Salju
Malu-malu kau turun
Melayang pelan bersama kerinduan
Rindu pada ranting yang ranggas
Rindu pada aroma tanah yang menguap
Rindu menebal dalam hangatnya Bumi

Salju
Putihmu seperti cinta semesta
Diam
Penuh makna semesta menantimu
Walau nanti gumpalanmu mencair
Semesta setia dalam cintanya
Bukan menghilang
Kau tetap meresap di dalamnya
Bersama semesta kau mencinta

Lebaran di Senja

by Netti Kurniati

Senja itu selalu cantik, seperti emas berbaur dalam garangnya warna merah. Tapi, selalu indah. Selalu membenam dan menaklukkan matahari dengan caranya yang elegan. Matahari selalu tunduk dalam pangkuan senja. Tapi, senja kali ini tak cantik, bahkan aku tak memahami entah bagaimana senja yang satu ini membuatku kian gamang mengartikan sebuah kehidupan.

“Mbah Mar, makan dulu ya. Nunik bawakan bubur, tapi tenang saja kali ini tidak pakai ayam hanya bubur,” aku mencoba memasukkan sesuap bubur kepada wanita ringkih berumur mendekati kepala tujuh ini.

Dia menunduk saja, tak ada gerakan seperti biasa. Kalau pun dia mau memakannya pasti dengan tindakan protes, hampir dua tahun aku mengurusi wanita yang menurutku pasti dia cantik selagi muda. Aku mendekat, mendongakkan dagunya. Lalu seperti menyuapi anak kecil, aku membuat gerakkan seolah sendok itu adalah pesawat terbang yang siap landas. Tanganku ditepis, lagi untuk kesekian kali tanpa suara hanya gerakkan tangan yang menandakan dia menolak, sendok berisi bubur jatuh. Tanganku hilang keseimbangan, mangkuk yang kupegangi pun tumpah. Seragam putihku basah, hangat merambat ke kulit bagian perutku.

Aku menghela napas, “Ya sudah, kalau memang enggak mau makan Mbah Mar kan bisa bilang.”

Kupungut sendok dan juga mangkuk yang berserak. Aku melangkah ke luar meninggalkan Mbah Mar sendiri di kamarnya yang hanya melulu putih. Tak ada yang heran melihat seragamku kotor kena bubur. Seperti biasa, perawat lain sudah paham, kalau jam jagaku mengurus Mbah Mar pasti berakhir tragis.

“Mbak, tolong pel lantai kamar 56 ya, kamarnya si embah. Biasa, buburnya tumpah,” aku meminta cleaning service panti untuk membersihkan kamar Mbah Mar.

Dia hanya mengangguk dan bergegas mengambil alat pel dan ember berisi air, aku melangkah menuju dapur dan meletakkan mangkuk dan sendok yang telah habis, gagal lagi aku memaksa si mbah makan. Tapi, kalau sudah lapar biasanya dia tidak akan menolak. Suasana hati perempuan berumur itu tak bisa ditebak. Aku mengibas seragamku dan mengelapnya dengan kain basah, mencoba untuk membersihkan. Bekas bubur sangat lengket. Tak terlalu berhasil, tapi lumayan setidaknya bekas buburnya tak begitu tampak lagi, tapi kini seragamku sempurnah basah.

Aku melangkah gontai, senja mulai merangkak. Walau matahari sudah mulai tenggelam, tapi peluhku menjalari bagian punggung. Hampir dua tahun mengurusi Mbah Mar, tak pernah sekali pun aku melihat anaknya berkunjung. Aku hanya mendengar kabar dari kepala perawat kalau anaknya hanya satu, laki-laki. Sibuk dengan pekerjaannya, dan di luar negeri. Kupelajari berkas-berkas mengenai perjalanan hidup Mbah Mar, tapi tak ada sedikit pun catatan yang menunjukkan Mbah Mar punya gangguan kesehatan atau kejiwaan. Aku duduk di ruangan jaga. Menulis laporan tentang Mbah Mar siang ini.

“Eh Nik, si embah enggak mau makan lagi,” Rima yang baru selesai mengontrol nenek-nenek lainnya mengambil kursi dan duduk bersebelahan denganku.

Aku mengangguk lemas.

“Ya, nih hasilnya,” aku menunjuk bekas bubur yang tumpah sambil menatap hampa padanya.

“Ya, namanya juga nenek-nenek pikun, aku rasa memang fase mereka balik lagi kaya anak kecil Nik,” Rima berusaha menabahkan hatiku.

“ Malam takbiran, lagi kita harus bertugas ,” aku mengalihkan topik, bosan membahas Mbak Mar yang membuat laporanku tak ada kemajuan.

“Ya, mana lo mesti jagain Mbah Mar lagi pas malem takbir, kalo nenek yang lain enggak pernah ada masalah, pada nurut aja.”

Ternyata benak Rima sama denganku, tak kulanjutkan percakapan ini, kami tak meratapi nasib di malam takbir, tak bisa bersenda gurau dan berkumpul bersama keluarga. Nenek-nenek di sini tentunya lebih membutuhkan kami ketimbang keluarga di rumah yang kurang satu anggota keluarga pun masih tetap ramai. Di panti ini, jauh dari harapan, tersiksa dalam sepi. Para ‘bekas’ orang tua yang mestinya dijaga dan dirawat dengan sebaik-baiknya menjelang senja malah harus merengkuh sepi.

“Mbak Nunik....,” teriakkan cleaning service membuatku dan Rima terlonjak. Suaranya lantang dari koridor berlari-lari menuju ruangan jaga.

Terengah-engah Mbak Prapti menuju ruangan jaga. Aku dan Rima menatap heran cleaning service jelita ini.

“Ada apaan mbak?” Rima bertanya penasaran.

“Anu sus....itu....aduh, “ Mbak Prapti seperti ingin menjelaskan sesuatu yang kompleks, antara pikiran dan lisannya tak dapat berkoordinasi dengan baik.

“Mbak, tenang. Ada apa, ceritakan pelan-pelan,” aku menepuk-nepuk pundak Mbak Prapti untuk menenangkannya.

“Ada apaan si mbak?” Rima masih penasaran dengan kepanikkan Mbak Prapti.

“Mbah Mar teriak-teriak sus, suaranya serem,” Mbak Prapti menjelaskan kepanikkannya.

“Ehh, urusin tuh nenek lo, “ Rima melirik ke arahku.

Aku bergegas menuju kamar 56, langkahku tergesa-gesa. Matahari kian tunduk pada malam, peluhku menetes di sudut bibir, mengucur deras karena kecepatan jalanku yang setengah berlari. Ada apa lagi dengan si mbah, selama dua tahun dengan ulah mogok makannya, baru kali ini dia berulah berteriak. Kutarik grendel pintu yang mulai berkarat di sudut-sudutnya, karena panti ini sudah berumur sama seperti penghuninya yang renta dimakan waktu. Saat aku datang, si mbah diam tak bersuara, padahal sebelumnya dari jarak lima meter aku sudah panik bercampur takut mendengar teriakannya, seperti suara anak kecil yang kehilangan ibunya di tengah keramaian dan suara si mbah lebih memilukan dari itu.

“Mbah Mar, kenapa?” aku mendekati si mbah yang berjongkok dekat dengan tempat tidurnya.

Si mbah mendekap kalung yang berhias liontin hati itu sambil terisak. Tak ada reaksi saat aku memanggilnya. Kucoba untuk mengelus pundak si mbah. Dia diam, biasanya dia akan menepis segala bentuk kontak fisik dengannya. Bahkan untuk mengelap tubuhnya, aku mesti meminta bantuan dua orang untuk memegangi si mbah.

“Mbah, ada apa?” walau aku tahu akan gagal dengan pertanyaan ini, aku tetap berusaha agar nenek renta ini mau bercerita apa pun kesedihannya.

Seperti yang sudah kubayangkan sebelumnya, dia bergeming. Aku mencoba mengangkat si mbah agar tak duduk di lantai. Kupapah dia untuk duduk di tempat tidur. Si mbah ini memang tergolong ‘tamu’ spesial di panti ini, karena keluarganya selalu rutin membayar uang panti dan juga selalu disisipkan bonus tambahan sebagai sumbangan untuk panti ini, itu yang sering diceritakan suster kepala kepada kami.

Si mbah kunaikkan ke atas kasur, aneh kali ini pun dia tak menolak. Dia berbaring di atas kasur dengan sprei tak ada motif dan juga warna menarik ini. Mata si mbah menerawang ke langit-langit kamar, seperti garis lurus dan datar.

“Mbah, kalau ada apa-apa bilang sama Nunik, kali aja Nunik bisa bantu,” aku tetap mengoceh walau pun tak paham benar si mbah bakal mendengarkan ucapanku ata tidak. Kupikir tak ada salahnya membuat si mbah merasa dibutuhkan dan ada teman.

“Mbah, Nunik di rumah punya kucing baru lagi, namanya Geisa, mbah tau enggak, papa yang belikan, soalnya papa tahu dari dulu Nunik cinta sama binatang. Geisa bulunya cantik mbah, matanya juga cantik mbah. Tapi, tenang aja mbah. Mbah jauh lebih cantik dari Geisa dan lebih cantik dari Nunik,” aku bercerita tak penting.

Matahari tunduk pada malam, mulai tenggelam. Aku masih menemani si mbah, kulirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku, sudah magrib. Aku mesti sholat dan istirahat sebentar. Karena harus jaga sampai pagi besok.

“Mbah, Nunik pamit mau menghadap Tuhan dulu ya,” kupancarkan mata binarku ke arah mbah yang tak juga bergerak dengan posisi awalnya, hampir dua puluh menit dia tak mengubah posisinya dan tetap kalung berliontin digenggamnya.

Aku ke luar dari kamar 56 ini dan melangkah ke mushola panti, menunaikan kewajibanku. Aku menerka-nerka, benda bersejarah yang sudah menemani perjalanan mbah di panti hampir dua tahun ini. Mungkin itu pemberian anak laki-lakinya itu atau pemberian suaminya. Kisah hidup si mbah selalu menarik, hanya untukku saja. Hanya beberapa suster yang kulihat di mushola, biasanya mereka lebih senang di ruang jaga masing-masing untuk sholat. Aku bergegas mengambil air wudhu, membasuh wajah membuat lelahku setidaknya berkurang. Sepuluh menit, aku tenggelam dalam khusyuk dan ketenangan batin. Suara jangkrik menemaniku, lorong-lorong panti sepi. Hanya suara langkah sepatu perawat terdengar. Jam segini waktunya memberi si mbah obat. Aku menyelesaikan sholatku.

“Nik, ada surat untuk si mbah, seperti biasa,” Rima mengagetkanku.

“Diletakkan dimana?”

“Meja lo, si mbah juga mesti minum obat tuh, gue mau sholat dulu, udah buka belum lo?”

Aku sampai lupa harus membatalkan puasa terakhirku di Ramadan ini. Rima berlalu dihadapanku, aku melipat mukenaku dan ingin menyelesaikan tugasku memberi si mbah obat dan tentunya membatalkan puasaku. Benar saja, pekatnya malam semakin menambah kesan mencekam panti ini, hanya saja ini malam takbiran, walau masjid jaraknya cukup jauh aku bisa mendengar bunyi bedug dan gema takbir yang dikumandangkan, selalu merdu dan menyejukkanku.

Kuteguk segelas air yang kuambil dari dispenser di ruang jaga. Benar saja, seperti biasa, surat di malam lebaran dan juga hadiah untuk perawat jaga selalu diberikan keluarga si mbah, malam ini aku yang mendapat kesempatan membacakan surat untuk si mbah walau aku tak berharap dia akan memahami isi surat dari sanak keluarganya itu. Kubuka bingkisan berwarna cokelat yang diberikan untukku sebagai ungkapan terima kasih mereka karena menjaga si mbah di malam spesial ini. Kubuka bungkusnya, ternyata isinya baju kaos polos berwarna merah hati, ada kartu ucapan di dalamnya. Kubuka amplopnya,

Selamat Hari Raya Idul Fitri dan terima kasih telah menjaga ibuku.

Singkat tanpa basa-basi, tak ada inisial nama. Aku menutupnya dan kuletakkan di laci. Satu amplop lagi, tentunya ini milik si mbah. Aku ke ruangan obat-obatan dan mengambil obat untuk si mbah dan tentunya beserta amplop berwarna biru ini yang akan kubacakan untuk si mbah. Kulangkahkan kaki menuju kamar 56.

Si mbah masih di posisi yang sama, kuhitung sekitar empat puluh menit dari kutinggalkan sholat hingga sekarang. Kalau orang normal, pasti tak akan betah dengan posisi yang sama. Aku menyodorkan tiga butir kapsul dan mencoba membuat si mbah duduk. Aneh, kali ini dia menurut tak ada aksi penolakan yang seperti dia lakukan sebelum-sebelumnya. Tiga kapsul itu di telannya, mengalir bersama air putihnya.

“Mbah, ada surat untuk mbah. Boleh kubacakan?” aku melihat mata mbah, kosong dan tak ada jawaban.

Kurobek amplop berwarna cantik itu, secantik mata Mbah Mar malam ini. Bunyi takbir masih bersahutan walau suaranya samar, aku bisa merasakan kemenangan seluruh umat malam ini. Tapi, entahlah dengan orang tua di panti ini, di waktu yang sama rasa sepi bercampur aduk dengan riuhnya suara takbir yang bersahutan.

Tiba-tiba mbah menarik tanganku saat hampir kutarik surat dari amplop itu. Kuurungkan niatku untuk mengeluarkan surat itu, aku kaget dengan reaksi si mbah yang seperti paham dengan yang akan kulakukan.

“Mbah, enggak mau Nunik membaca suratnya ya,” aku mencoba memahami makna gerakan si mbah tadi.

Mbah tak juga memberikan tanda-tanda akan bersuara, dia masih memegang tanganku. Kalung berliontin hati itu baru kusadari telah berpindah ke lehernya. Kuamati kerutan-kerutan di wajahnya tapi tetap menyisakan kecantikkan di wajah si mbah.

“Kalau mbah enggak mau Nunik bacakan, suratnya biar mbah baca aja sendiri ya, barangkali memang ada rahasia di dalamnya yang tak boleh Nunik baca.”

Tiba-tiba mbah melepaskan tangannya dan mengambil kalung yang tergantung di lehernya. Seperti memberi aba-aba padaku, dia memintaku membuka liontin berbentuk hati itu. Kubuka liontin itu, berisi foto wanita cantik dan seorang anak kecil di sampingnya. Tak tampak jelas lagi foto itu, bukan saja ukurannya yang kecil melainkan juga warnanya hitam putih dan mulai memudar membuatku tak bisa mengenali dengan jelas wajah di dalam liontin itu.

“Ini embah ya,” aku mencoba memancingnya.

Mbah menerawang, dia menarik amplop dalam genggamanku. Aku diam, tak paham benar keinginanya. Mbah merobek amplop cantik itu. Sepi dan malam makin menggambarkan kesedihan wanita tua ini. Aku ingin mencegahnya, tapi tak mampu kugerakkan tanganku. Kulihat ada yang menggenang di sudut wanita tua itu.

Malam kian larut, takbir berkumandang walau tak jelas aku bisa merasakan sunyi di lebaran kali ini. Mbah tiba-tiba memelukku dan menangis di pundakku, aku membalas pelukannya erat. Kami terbenam di malam lebaran ini.

(NK-5 November 2011)
 http://netti.radhie.com

Photos by Suryo H 2




Photos by Novy SA 2









Dream, Believe and Make It Happen



by Lestari Noorikawati Anggraeni 

Semua orang mempunyai mimpi, dan pastinya mereka ingin berhasil meraih mimpi – mimpin.Untuk meraih mimpi itu kita harus usaha, dan berjuang sampai berhasil. ‘Dream, believe and make it happen’ adalah mantra yang membantu Agnes Monica berhasil dalam mencapai cita – citanya. Mantra di sini bukan berarti perkataan atau ucapan yg memiliki kekuatan gaib dalam kamus bahasa Indonesia.Tapi kalimat itu membuat Agnes Monica semangat dan percaya diri.

Jujur, kata – kata itu memang seperti mantra bagi penggemarnya. Setelah mendengar kata – kata itu  ada semangat yang terpancar dan rasa percaya diri yang meluap untuk mewujudkan cita-cita seperti artis idolanya, Agnes Monica. Siapa yang tidak mengenal artis cantik muda, berbakat dan dengan segudang talenta ini. Ternyata, bukanlah mudah bagi Agnes Monica untuk menggapai semua yang diraihnya seperti saat ini. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang kita inginkan.

Pertama adalah kenalin diri kalian dan kemampuan kalian. Dengan itu kalian dapat mengetahui potensi yang ada di dalam diri kalian masing-masing. Sebab, bila cita-cita kalian tidak sesuai dengan kemampuan dan bakat kalian, maka akan sulit menggali potensi yang ada di dalam diri kalian.

Kedua, fokus pada satu tujuan. Kalian harus fokus pada apa yang benar – benar tujuan kalian. Misalnya seorang pelajar mengerjakan soal pilihan ganda, Tidak mungkin dia memilih dua pilihan, pasti pilihan yang dijawab hanya satu. Walaupun, dia masih memiliki pilihan lain. Atau juga seorang pengembala ingin menangkap 2 kambing, tidak mungkin dalam satu waktu si pengembala dapat menangkap kambing tersebut dalam waktu bersamaan.

Hal ketiga yang harus diperhatikan yaitu terus asah bakatmu. Belajar, belajar dan belajar, tidak mungkin kalian jalan di tempat.Ilmu itu luas, dan tidak di situ-situ saja. Dengan perkembangan teknologi pikiran manusia pun berkembang.Pensil kalau tidak di raut pasti tumpul. Begitu juga bakat, kalian harus terus asah dan perluas bakat kalian agar lebih maju.

Keempat, tekun berlatih dan terus belajar.Sebab orang yang tidak pintar tapi belajar, lebih baik disbanding dengan orang pintar tapi tidak belajar. Nah, lebih baik lagi kalau sudah pintar tetap rajin belajar.

Lima, berani mencoba sesuatu yang baru.Jangan pernah takut untuk mencoba.Setiap mencoba pasti ada jatuhnya, tapi jangan pernah melihat berapa banyak jatuhnya, tapi lihat hasilnya di kemudian hari.Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian.Bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian, peribahasa yang terdengar using tapi pesannya sangat sesuai dengan kondisi kita yang sedang berjuang meraih mimpi-mimpi. Jadi jangan pernah menyerah dalam berusaha, sebab jatuh bangun itu biasa. Bayi belajar jalan saja pasti jatuh dulu.

Enam, belajar dari orang – orang yang berpengalaman.Jangan pernah takut bertanya. Tanyalah jika tidak tahu, tanyalah pendapat dan kritikan dari orang lain. Sebab sudut pandang orang lain dapat memperbaiki kekurangan – kekurangan kita. Belajar dari orang sukses, lihat kehidupan mereka sehari – hari, kebiasaan mereka, yang membuat mereka menjadi sukses.

Terakhir adalah berdoa dan tawakal. Tidak ada usaha yang di lakukan tanpa doa. Agar hidup kita tenang, berdoa dan ibadah lah. Selain itu minta doa dari orang tua, dan orang- orang di sekitrar kalian.

Tips-tips di atas semoga bermanfaat bagi kita semua. Jangan menyerah, terus berusaha, dan semangat! Dream, believe and make it happen!








http://about.me/raenichka

AYO MEMBACA


by Ardyaksa Diptya Pramudita
Kelas 5 SD

Secarik kertas telah diberikan
Serangkai kata telah dituliskan
Duhai kawan,
Kenapa engkau diam saja ?
Kenapa kertas itu hanya kau simpan ?

Sungguh banyak harapan terpendam
Ilmu maha luas telah tertuliskan
Namun sayang, kau malas membaca
Dunia begitu luas, ilmu pun terbentang

Sungguh dunia telah berkata
Kau ingin tahu isiku ?
Kau ingin mengerti apa tentangku ?
Namun sayang kawan, kau malas membaca

Duhai kawan,
Bangkitlah sekarang
Wawasan luas telah menantimu
Lawanlah jiwa malasmu itu
‘Tuk mencapai cita-citamu

Sang Pembela Negara


by Arsyad
kelas 2 SD

Duhai sang pembela negara
Kau berjuang demi negara tercinta
Kau berjuang tak kenal lelah
Untuk kemerdekaan Indonesia

Sang pembela
Jiwa dan raga mu kau serahkan
Untuk bangsa dan negara
Aku bangga padamu

Pejuang


by Taroy
Kelas 4 SD

Orang-orang yang berjuang untuk kemerdekaan
Berjuanglah sampai menang, untuk republik negara  tercinta
Berhati-hatilah dengan musuh
Engkau telah berjuang
Kau berjuang untuk kemerdekaan Indonesia
Kami ucapkan terima kasih padamu

Pahlawanku


by Tari
Kelas 1 SD 


Oh… pahlawan
Engkau adalah pejuang
Pembela bangsa dan negara Indonesia

Oh… pahlawan
Jasamu tak terkira
Bagi rakyat Indonesia

Pahlawan


by Aldina G.S
Kelas 3 SD

Pahlawan kau berjuang  untuk bangsa dan tanah air tercinta
Kau tidak pantang menyerah melawan para penjajah
Cita-citamu sangat agung dan luhur
Untuk mempertahankan tanah tumpah darah Indonesia

Pahlawan
Tiada terhitung pula jasa-jasamu
Engkau tidak menghiraukan jiwa
Sekali pun nyawa akan terenggut
Tapi kau tetap berjuang
Kami bangga padamu

Pahlawan



by Ardyaksa Diptya Pramudipta 
Kelas 5 SD

Para pejuang
Atur siasat sebelum berperang
Agar menang di medan perang
Para pejuang
Berkorban untuk bangsa
Luka di badan
Tak mereka hiraukan   
Mereka rela berkorban jiwa dan raga
Demi tanah air tercinta


                             

Satu Titik


by Gibran Qadaranta
Terbang ke atas..bagai burung mengepakkan sayapnya…
Jatuh ke bawah..bagai burung patah sayapnya
Jiwa ini berada di tengah-tengah
Antara kehidupan dan kematian
Tak ada salahnya aku berjalan
Di atas bumi yang kosong

Mati dan hidup..sebuah perbedaan yang menyakitkan
Tak kuasa aku melawan perbedaan
Apalagi tanpa tangan dan kepala di sebelahku
Dunia ini kotor..tanpa keadilan
Hanya perbedaan yang terlihat
Tanpa melihat yang di dalam

Busuk!!!
Semunya hanya melihat topeng
Bukan hati
Topeng penuh dengan kotoran..dan BUSUK!!
Hanya hati yang melambangkan kepribadian yang suci
Dan hanya hati lain yang bisa melihat hati yang lainnya

Buka matamu
Buka hatimu
Lihat ke depan
Lupakan yang dibelakang
Tetaplah berada di JalanNya
Walau kiri dan kanan..depan dan belakang
Penuh dusta dan aura kejahatan

Beberapa saat lagi
Semuanya selesai
Semuanya berakhir
Dan semuanya habis ditelan Bumi
Kita semua akan berhenti
Kalian semua akan berhenti berlari.
Mengikuti nafsu sendiri
TITIK!!!

The Moment


by   Gibran Qadaranta  
Dia tercipta karena sebuah kenyataan
Hal biasa yang terabaikan
Terlihat nyata dan temani setiap cahaya
Dan dengan terciptanya kenyataan lahirlah Dia

Impian di depan dan
Kenangan menjaga jaraknya di belakang
Berhias memori dan kisah
Mewarnai langkah ini lagi dan lagi
Tak pernah lelah dan terus mengoleskannya

Menghayal indah
Cerita yang kita tulis sendiri
Secarik kertas yang terpatri serbuk serbuk kayu
Tak pernah lepas dari ingatan
Pelukan erat seolah tak ingin lepas
Pundakku yang bersandarkan kepalamu
Tiap bait kata-katamu
Yang berhasil mengatur irama jantungku

Hasrat untuk membisikkan
Kembali tumbuh di sela perasaan halus
Memaknai tiga kata beriringan namamu
Hanya kau dan aku dengan rahasia-rahasia kebersamaann
“From that moment, I hope my memory becomes reality”

Triangle Love

by Dinda Chaerunisa

“Maggie tungguin dong ! Hujan nih , becek lagi kalau seragam gue basah gimana? “ seru Shelby dengan nada manja, sambil berlari-lari menuju ke halte bus .
 “Itu sih urusan lo, habis lo jalannya lama banget, gesit dikit gitu loh entar kalau ketahuan Pak Kingkong dan Bu Kingkong gimana ?  Entar ribet urusannya, apa lagi kalau sampai mereka tau kalau kita bolos ! Ngomong- ngomong lo udah minta tolong ke Kevin kan ? “ sahut Maggie.
Pak kingong dan bu kingkong adalah guru tergalak di sekolah Maggie dan Shelby sebenernya nama asli Pak Kingkong sama Bu Kingkong itu adalah Pak Eki dan Bu Tika, mereka pasangan suami istri yang galaknya sama aja. 
 “ Hah? Minta tolong apa? “ Shelby berbalik tanya kepada Maggie.
 “ Shelby ku sayang lemot banget sih,  gue kan udah bilang sebelum kita mau bolos, lo,  gue suruh minta tolong Kevin absenin kita, jangan  bikin gue marah deh,“ kelemotan dan kepikunan Shelby membuat Maggie naik darah.
“ Oh iya gue lupa, sorry sorry gue lupa,“ Shelby meminta maaf dan segera mengambil handphonenya untuk segera menelpon Kevin sebelum Maggie kembali naik darah.
“Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif coba beberapa saat lagi ,“ operator itu membuat Shelby sekarat tentu sekarat dalam hal akan kena omelan Maggie lagi.
“ Shel ,diangkat gak ? “ tanya Maggie dengan penasaran.
“Enggak, handphonenya enggak aktif,“ Shelby menjawab dengan muka memelas, setelah itu , enggak ada satu kata pun yang dilontarkan oleh Maggie, dia hanya fokus kepada halte bus yang jaraknya tidak jauh dari mereka.
Kevin adalah cowok terpopuler di sekolahnya, Shelby  dan Maggie bisa dibilang cewek beruntung bisa sahabatan sama Kevin, di antara mereka, Shelby dan Kevin berpacaran, dan Maggie adalah sahabat Shelby dari taman kanak-kanak, kebetulan orang tua mereka itu akrab.
“Eh, kita ke Coffee Bean aja yuk? Kita kan udah lama enggak ke sana,“ Shelby membuka pembicraan saat duduk di bus.
” Shelby pikun lo itu makin jadi ya ? sumpah deh bisa naik darah terus gue , kemaren itu kita baru ke Coffee Bean, lagian juga udah basi kalo ke Coffee Bean lagi,“ Maggie menjawab pertanyaan Shelby.
“ Sombong lo enggak boleh gitu , by the way gara-gara lo nih ngajakin gue bolos rambut lepek , seragam basah sepatu kesayangan gue kotor , padahal kan baru di cuci, ” Shelby mengeluh tidak terima. “
“Bawel lo Shel , siapa juga yang ngajakin lo ? Enggak usah GeeR dehh,“ Maggie menjawab dengan santai sambil membuka latopnya.
“SHELBY!” teriak Maggie kepada Shelby yang membuat penumpang seisi bus memandang ke arah mereka seakan menjadi pusat perhatian. “
“ Sorry Magg, tapi kali ini sorry banget,  gue dulu ya yang pinjem laptop lo, pengen ol bentar aja, mau ngecek Kevin online apa engga,“ Shelby memohon kepada Maggie dengan senyuman yang dibuat-buat.
” Ya yaa , tapi yang jadi masalah liat dong kaki lo nginjek kaki gue ! Sakit tau! Lagian juga ya mereka kan masih pelajaran matematika, gimana sih “ seru Maggie.
“ Ya ya , sorry lagi ya ,lupa gue,” Shelby meminta maaf yang ke sekian kalinya.
 “Emang lo ya enggak ada hari tanpa kata LUPA, huh! “ Maggie berkata dengan wajah kesal.
Setelah itu akhirnya mereka memutuskan untuk ke café darky, kafe dimana mereka memasukan Kevin ke dalam anggota persahabatan  mereka dan tempat itulah Shelby dan Kevin jadian.
“ Shel , mau pesen apa lo? “ tanya Maggie
“Gue pesennya sama kaya lo aja,“ jawab Shelby sambil menguap karena setelah perbincangan berhenti Shelby tertidur pulas karena hawa yang mendukung dia untuk tidur di bus.
“ Oke , Mbak ice cream choclattenya dua ya,“ Maggie meminta kepada pelayan.
 “Eh eh, Mbak ice creamnya satu aja saya hot choclatte aja, “ kata Shelby.
Shelby mengarahkan pandangannya ke Maggie kemudian berkata
 “ Magg, lo gimana sih? Dingin dingin gini makan ice cream, kita kan abis hujan-hujanan, baju basah, entar sakit gimana? lo  juga pake mesenin gue ice cream choclatte.”
“ Shelby lo deh perasaan yang minta pesenanan lo sama kaya gue gimana sih! Hayo! Lo mau bilang apa? Lupa? “  Maggie berbicara setegah berbisik sambil menundukan kepalanya  , karena Maggie sadar kalau pelayan café itu masih berdiri di samping mereka
Maggie berkata lagi “ Udah mba itu aja pesenannya makasih.”
 dret dret dret dret  
Handphone Shelby bergetar di atas meja yang berwarna hitam 
 “Yap? Hello kamu udah istirahat Kev ? Gimana keadaan aman aman aja kan?aku lagi di café darky nih ,“ dengan semangat Shelby menjelaskan
Kalau dilihat-lihat Kevin sama Shelby itu soulmate banget. Sebenernya Kevin tidak suka kalau Shelby bolos tapi karena Shelby memohon – mohon ya mau gimana lagi  , Kevin termasuk cowok yang paling tidak bisa melihat Shelby dengan muka melasnya itu.
 “Iya, aman aman aja kok, baik baik ya, bolosnya sekali ini aja besok-besok enggak boleh lagi ya, “ suara Kevin terdengar dari ujung sana.
 “Oke dehh , bye,“ Shelby menutup motorola fitrinya yang berwarna pink bermotif hiasan.
“Tuh dia pesenan kita dating, “ Maggie berkata dengan semangat.
 “Yoi, tapi kayanya lo seneng banget deh, ada apa sih? “ tanya Shelby penasaran .
 “Bokap nyokap gue tadi bbm gue katanya, sahabat bokap gue punya anak cowo nah gue mau di kenalin deh, mudah- mudahan tipe gue deh ! “ seru Maggie dengan mata berbinar – binar.
“ Yey! Asik dong , gue sama Kevin , entar lo sama cowo itu , asik nanti kita malming bareng  ya! Asik 2 couple!” Shelby berbicara dengan menutup matanya, ya pasti si Shelby mengkhayalkan.
“ Tinggi banget sih khayalann lo, hahaha , auuuuuu! “Maggie memegang kepalanya.
“Maggie, lo kenapa? “
 “Enggak apa – apa pusing nih gara – gara ke hujanan kali ya ? pulang sekarang aja yuk,“ Maggie mengajak Shelby pulang, sebenernya mereka masih ada pelajaran sampai jam 3 tapi mereka memutuskan untuk pulang.
ting tong ting tong
Bell rumah Maggie berbunyi.
 “Siang tante, “  sapa Shelby pada tante Almira mamanya Maggie.
“Siang Shel, aduhh maaf ya ngerepotin kamu, ayo sayang masuk,“  tante almira mengajak anaknya masuk dan juga Shelby.
 “Maggie pusing lagi ya?” tanya tante Almira.
“ Emang Maggie sering pusing tante ?” tanya Shelby kaget.
“ Hah? Enggak kok sayang ini mungkin dia pusing kecapean ,“  jawab tante almira gugup
Setelah itu Shelby menemani Maggie ke kamarnya, lalu pamit pulang.
****** ******
“ Pagi Pak Somad, “ sapa Shelby kepada bapak yang menjaga gerbang sekolah.
” Pagi neng, “ jawab pak somad.
 “ SHELBY!”  Kevin memanggil Shelby dengan volume yang cukup keras .
 “Hai,“ sapa Shelby mendekati Kevin.
” Ada apa  ? “ tanya Shelby.
” Enggak apa-apa nyapa aja kemaren kita kan gak ketemu cuman pagi – pagi doang, kamu kemana kemaren kok enggak ikut pelajaran selanjutnya, enggak ngabarin aku lagi,“ Kevin mengeluarkan pertanyaannya yang sedari tadi di kemas di pikirannya.
“ Aku abis ke Café Darky , aku langsung nganterin Maggie ke rumahnya soalnya dia tiba – tiba kepalanya pusing,“ Shelby ngejelasin dengan sabar.
” Ohh gitu, ya udah enggak apa-apa aku ke kelas duluan ya Dika nungguin aku di kelas dari tadi, bye,“ Kevin melambaikan tangannya ke Shelby dan Shelby pun membalas.
**** ****
Hmmm Maggie kemana ya?udah seminggu enggak masuk?ada apa?gak ada kabar?kok perasaanku gak enak ya?sebenernya ada apa sih?,
Shelby tak bisa mengungkapkan itu  semua karena terlalu banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan, Shelby lesu seminggu enggak ada yang menyemangati dia lagi, walaupun ngomelinnya nyebelin banget ! tapi kehilangan juga, Shelby sangat khawatir , banyak pertanyaan di benaknya.
“SHELBY,” tampak seseorang yang memanggil Shelby, suara itu sangat  familiar, ya itu pasti Maggie.
” Maggie ya ampun gue kangen banget sama lo , lo udah sembuh?” tanya Shelby segera.
 “Udah kok, eh entar pulang sekolah gue mau dikenalin sama anaknya temen bokap gue itu loh,” jawab Maggie dengan semangat.
“ Ohh ya, entar jangan lupa kenalin ke gue oke? Ke kelas sekarang yuk ! Kevin udah di kelas dari tadi tuh ! “ seru Shelby, dan Maggie mengangkatkan kedua ibu jarinya.

 “Sayang, dandan yang cantik ya, anaknya temen papa bentar lagi dateng, tenang aja ganteng kok!” Tante Almira sangat semangat dengan kedatangan anak kerabatnya itu.
 ting tong ting tong
Bell rumah Maggie pun berbunyi sebagai tanda kalau anak sahabat mamanya datang.
”Iya sebentar,” Tante almira berseru dari dalam rumah kemudian menyambut sosok cowok itu dan teman bapak itu , tetapi saat teman bapaknya Maggie masuk anak cowoknya masih parkir mobil.
” Selamat datang, kenalkan ini anak saya,” lalu tante almira menyenggol tangan Maggie agar dia bersalaman.
 “Selamat datang om, “  setelah itu Maggie secepat mungkin mengambil bb-nya di kamar, karena dia hamper saja lupa dengan janjinya kalau dia akan mengabarkan Shelby kalau cowo itu sudah tiba di rumahnya.
Kemudian, “ Hallo tante, maaf saya telat tadi markir mobil dulu, “ kata sosok cowo itu.
 “Iya enggak apa –apa, silahkan masuk.“
Lalu Tante Almira berkata lagi, “ Maggie sini nak.”
Saat Maggie berjalan , cowo itu merasa nama yang disebut tante almira  sangat familiar di kupingnya.
 “Loh! Kevin? Lo ngapain kesini ?” Maggie merautkan muka heran.
 “Loh! Seharusnya gue yang tanya lo ngapain?” Kevin mengerutkan keningnya .
“Kayany ada yang salah nih, maaf tante saya mau nanya apa ini anak tante yang mau dikenalkan dengan saya?” tanya Kevin kepada Tante Almira.
” Iya nak, tapi rupanya kalian sudah kenal, bagus deh, bisa lebih deket lagi nantinya,” Tante almira merasa senang jika anaknya sudah kenal dengan cowok sahabat suaminya itu.
 “ Hah! Aku enggak mau ah ma!” Maggie kaget serentak dengan Kevin.
Kevin tidak dapat menggerakan mulutnya untuk bicara, pandangannya kosong , tidak menyangka kejadian seperti ini, sebetulnya Kevin sudah menolak tawaran papanya itu karena Kevin toh udah punya pacar , tapi mau bagaimana lagi?  Papanya sudah memaksa , bahkan sudah memikirkan anak sahabat papanya itu bertunangan dengan Kevin , padahal mereka masih SMA , belum waktunya untuk memikirkan sampai sejauh itu.
            Terlihat di ruang tamu orang tua mereka sedang merencanakan sesuatu.
“ Kev ! kita harus batalin pertunangan ini! Kalo kita tunangan ya berarti kita khianatin Shelby! Shelby itu sahabat gue!  Dan elo kan pacarnya !“ Maggie memegang kepalanya,  mencari -cari akal.
” Ya gue tau,  tapi mau gimana lagi? Bokap nyokap gue itu keras kepala, sekali iya yaa iya, sekali enggak ya enggak!  Jadi susah lah!” keluh Kevin.
            Keadaan saat itu sunyi, setelah Maggie dan Kevin sedang membujuk orang tua mereka, agar mereka tidak bertunangan. Orang tua mereka hanya diam seakan tidak terima, jika pertunangan dibatalkan berarti rencana mereka pun batal .
Papanya Kevin dan papanya Maggie berdiri serentak, tersenyum lalu berkata, “ Tidak bisa nak ! kita sudah menyiapkan semuanya, mulai dari makanan, baju ,undangan ,hingga cincinnya, kita juga sudah menelpon toko undangan pertunangan ternama, kalian hanya perlu menyiapkan diri saja, oh iya satu lagi kami sudah menentukan tanggal pertunangan kalian,“ papanya Kevin membuat Maggie dan Kevin membeku seperti es di sofa
 “ Tanggal berapa? “ tanya Maggie lesu.
“Tanggal 7 November.”
***********
Itu sehari sebelum Shelby ulang tahun, gue udah enggak bisa ngapa –ngapain, bokap nyokap gue begitu semangat menyiapkan pertunangan ini, gue belum cukup umur! Gue masih SMA! Lagian juga Kevin udah punya pacar dan pacarnya itu sahabat gue, gue ngerasa udah ngekhianatin dia. Maggie merenung di kamarnya yang serba ungu itu.
***********
Shelby maafin aku ya, aku sama sekali enggak bermaksud nyakitin kamu , kamu emang belum tahu  sekarang, tapi nanti kamu pasti bakal tau, aku terpaksa ngelakuin ini,  setelah tante Almira  cerita sama aku. Kevin pun melakukan hal yang sama dengan Maggie
***********
koprang koprang koprang
Suara piring jatuh terdengar hingga mamanya berkata,“ Shelby  hati – hati dong.”
”Iya ma, maaf, “ perasaan Shelby tiba-tiba tidak enak dan pikirannya Kevin, dengan segera Shelby menelpon Kevin.
” Halo, kamu gak apa – apa kan? Tiba – tiba perasaan ku gak enak, “ suara Shelby yang begitu terdengar khawatir.
 “Enggak apa- apa kok, udah malem kamu tidur gih, bye, “ Kevin terbangun dari kasur ketika mendegar pernyataan Shelby.
**** 7 November****
Maggie terlihat cantik dengan kebaya yang dipakainya , menuruni tangga rumahnya yang sudah dihias sedemikian rupa. Kevin menunggu Maggie di lantai bawah karena acara segera di mulai. Perasaan mereka ragu ketika pertukaran cincin dimulai, dengan hitungan detik pun cincin itu akan masuk ke jari mereka tetapi...      
Maggie pingsan ! terjatuh seakan tak berdaya , Kevin menjatuhkan cincin pertunangan dan segera membawa Maggie ke rumah sakit bersama orang tua mereka .
***********
 “ Dok , gimana keadaan anak saya?” tanya Tante almira segera ketika melihat dokter keluar dari ruangan .
” Anak ibu terkena kanker otak, stadium 2, mengapa ibu baru membawa putrinya ke rumah sakit sekarang ? sudah stadium 2 itu cukup parah, “ pernyataan dokter itu membuat tante Almira menangis. Semua terkejut  mendengarnya, Maggie yang tomboy sekarang tidak berdaya berbaring di rumah sakit .
“Saya akan mengajukan surat permohonan kepada rumah sakit Singapura, saya kebetulan punya sahabat yang menangani penyakit kanker, “ dokter itu pergi dan segera membuat surat permohonan.
Setelah menerima surat permohonan tanggal 8 november keluarga Maggie ke Singapura menemaninya. Sedangkan, Kevin hanya dapat memberikan doa kepada Maggie.
Rumah Shelby
8 november tepat pada hari ulang tahun Shelby.
“Kev, Maggie mana? Kok belom dateng juga ya?“ Shelby menunggu kedatangan sahabatnya sejak tadi.
 “Mungkin enggak datang enggak enak badan , abis acara udah selesai dia belom datang,” Kevin mengarang selogika mungkin, karena Maggie tidak ingin kalau sahabatnya itu tahu di mempunyai penyakit kanker otak .
“ Masa di ulang tahunku dia enggak dateng sih? Enggak adil ! Waktu 8 july aku dateng ke ulang tahun dia, tapi sekarang di ulang tahunku enggak dateng! “ Shelby tidak dapat menahan emosinya karena tidak terima atas ketidakdatangan sahabatnya itu.

Rabu, 14 november (di sekolah)

“ Ini enggak mungkin !” Shelby berseru dalam hatinya, air matanya mulai bergulir deras.
 Kevin segera memeluknya dan berkata, “Sabar ya, kamu harus kuat.”
Di papan sekolah tertulis
Telah wafatnya teman kita, saudara kita, sahabat kita ,ananda Maggie Sakuraya, tanggal 13 november pukul 10.00 WIB, keluarga dari alm. Maggie  meminta agar segala kesalahan yang diperbuat dapat dimaafkan.
Terima kasih