by Cornelia Verdiana
Senin, 9 Mei 2011
Kamu udah aku anggap sebagian dari hidup aku, ketika kamu jauh dari hidup aku, aku tidak tahu apa ini masih bisa di bilang hidup? Karena apa yang aku anggap sebagian hidupku terlihat sangat menikmati kedekatannya bersama seseorang, dan seseorang itu bukanlah aku.
Seperti biasa, seperti hari-hari sebelumnya, Citan selalu tiba di sekolah lebih awal dari anak-anak lainnya. Inilah yang dia suka, suasana sekolah yang masih sepi, udara pagi yang mampu membuat bulu kuduknya merinding, bau rumput basah yang sengaja di siram oleh Pak Idam semenjak pagi tadi.
Kakinya pun terus melangkah sampai ketempat tujuan, tempat yang sangat tidak asing buatnya dan sering ia habiskan waktunya untuk menetap didalamnya. Ya, itu kelas nya. Dan seperti biasa, dia selalu menjadi orang pertama yang duduk di dalam kelas itu.
*******
Kantin Bunda
“Tan, sampe kapan sih lo mau backstreet gini sama Dery?” Kina mencoba membuka pembicaraan.
“ Belum tau Na…” tanggap Citan penuh pandangan kosong.
“ Lo tau enggak sih Tan! Kemarin anak-anak pada ngomongin Dery! Mereka bilang si Dery jadian sama Rany ! gue enggak mau lo terus-terusan ngalah gini. Gue enggak mau nanti ini semua malah cuma bikin sakit hati lo. Dan gue sebagai sahabat, ikut-ikutan sakit ngeliat lo begini “
“ Kina, enggak mungkin Dery pacaran sama Rany! Lo tau sendirikan alesannya? Enggak mungkinlah Na!”
“Ya, tapi mau sampe kapan kaya gini? Lama-lama enggak bisa dibiarin Tan! Seharusnya yang mereka tahu tuh pacarnya Dery lo bukan Rany! “
“ Biarin dulu deh na, pasti ada waktunya. Gue percaya pasti ada..” kalimat Citan menggantung.
“Hah! Terserah lo deh Citan. Pokoknya jangan sampe apa yang gue omongin tadi beneran terjadi sama diri lo! Eh, by the way mau makan apaan lo? Bentar lagi masuk nih…”
*******
Tubuh lelah Citan akhirnya berhasil mendarat di kasur favoritnya. Kasur yang setia menemaninya walaupun terkadang harus rela mendadak menjadi pulau akibat air liurnya. Citan memutuskan untuk tidur tanpa memikirkan tugas sekolahnya yang amat bertubi-tubi.
Baru berniat untuk memejamkan mata, namun seperti ada yang kurang dipikirannya. Bergegas ia mengambil handphonenya dan tak ada satupun sms atau telpon dari Dery di layar handphone nya. Wajahnya terlihat berubah mengkerut. Tanpa pikir panjang Citan mutusin untuk menelpon Dery terlebih dahulu..
Dery
Connecting…..
“Enggak diangkat. Kemana ya?” benaknya.
Karna lelah hanya mendengar nada sambung, Citan mematikan telponnya dan memutuskan untuk mengirim pesan.
Sent:
Der lagi apa? Telpon aku ko ga di angkat?
Jangan lupa makan ya sayang..
Citan terus memandang layar handphonenya, berharap tak lama Dery menjawab pesannya, tapi akhirnya dia memutuskan untuk tidur karna namanya tak kunjung muncul di layar handphonenya.
***********
Pelajaran terakhir hari ini adalah matematika. Tapi tubuh mungil Pak Hena belum juga muncul di dalam kelas itu. Suasana kelas pun saat itu sangat ramai dan salah satu penyumbang keramaian itu adalah sekumpulan perempuan yang duduk tepat di belakang Citan. Mereka terdengar sedang membicarakan seseorang, dan Citan kenal betul nama yang di sebut-sebut dalam pembicaraan mereka.
“Eh, si Dery makin mesra aja ya sama Rany,” suara Lisa samar namun jelas dan lekat terdengar di telinga Citan
“Maksud lo,” Naya merespon pernyataan Lisa antusias
“Iya, waktu itu gue ngeliat mereka makan berdua di kantin pas pulang sekolah, udah gitu pake acara suap-suapan lagi,” Lisa menambahkan bumbu cerita yang membuat telinga Citan kian panas.
“Namanya juga orang pacaran, wajar-wajar ajalah,” suara Vita terdengar tak tertarik menanggapi gossip teman-temannya.
“Oh, kemaren gue juga liat mereka ciuman pas lagi di restoran kemang!” Adel menambah informasi yang dia ketahui.
“Oh ya?” Naya menanggapi.
“Iyaa!” Adel meyakinkan teman-temannya yang seolah tak percaya dengan pernyataannya tadi.
“woooow!” suara Naya dan Vita terdengar antusias.
Tetesan air mata mulai tidak terkontrol di mata Citan..
“ Enggak usah didenger kalo cuma bikin lo nangis!“ senggol Kina sambil berbisik.
“Gue kok lama-lama ngerasa ga kuat Na. Dery juga udah jarang nelpon gue jarang sms gue, kemaren gue nelpon dia lagi dan lagi-lagi enggak diangkat. Gue enggak inget udah keberapa kali dia enggak ngangkat telpon dari gue. Gue kaya kehilangan dia Na,” ucap Citan dengan isakan tangis.
“Gue bilang juga apa! Ini tuh ga bisa di biarin Tan, lo perlu ngomong sama dia! Lo harus bicarain ini berdua baik-baik !”
“Ya Na, lo bener, gue perlu bicarain sama dia, gue akan ketemu dia sepulang sekolah nanti.”
Citan langsung berlari ke arah kelas Dery waktu bel pertanda pulang berbunyi. Tapi mungkin Citan yang kurang cepat, teman sekelas Dery bilang kalau ternyata Dery udah keluar kelas sama Rany sejak dari tadi..
**********
Meskipun telpon darinya tidakpernah diangkat akhir-akhir ini, itu sama sekali ga membuat Citan putus asa, kali ini Citan mencoba menghubungi Dery lagi dengan berharap semoga kali ini telpon dari nya di angkat..
Dery
Connecting…..
“Angkat, Der,” ucap Citan dalam hati.
“Halo,” tak lama terdengar suara dari yang dia nanti-nanti, suara yang sangat dia rindukan.
“ Halo Dery,” sapa Citan antusias.
“Ada apa?” suara di seberang telepon terdengar dingin menanggapi.
“ Cuma nanya kenapa? Yang ada kamu yang kenapa! Sms ku ga di bales telpon ku ga pernah di angkat! “
“Oh, aku lagi sibuk,” ucap Dery tak bersemangat.
“ Aku mau kita ketemu besok!” Citan langsung ke inti permasalahan.
“ Oke, abis pulang sekolah aku tunggu di lapangan basket!“ Dery menimpali.
“Oh ya udah,” Citan tersenyum karena bahagia.
***********
Sesuai yang di bicarakan di telpon kemarin. Citan dan Dery akan bertemu sehabis pulang sekolah dan ternyata Dery sudah menunggunya sedari tadi. Citan pun menghampirinya.
“Duduk Tan, ada apaan? “ Dery membuka pembicaraan.
Terdengar suara tarikan nafas dari Citan.
“ Ada apa kamu bilang? Ada yang salah Der sama kita berdua!” terdengar nada tinggi.
“ Maksud kamu? “ Dery seolah tak memahami arah pembicaraan Citan.
“Maksud aku mau sampe kapan kita kaya gini? Bener kamu pacaran sama Rany?”
“ Aku enggak pacaran sama dia! Kenapa sih kamu? “
“ Jujur aja Der sama aku! Kata anak-anak kamu pacaran sama dia!“
“Kamu sekarang lebih denger omongan anak-anak dibanding sama aku? Sekali lagi aku bilang ke kamu aku sama sekali enggak pacaran sama Rany! Please Tan jangan kaya anak kecil. Dari awal kita tau kenapa aku ngelakuin ini. Kamu harus ngertiin posisi aku sekarang tan!“
“Oh, aku sangat ngertiin Der! Aku ngertiin kamu! Aku ngertiin Rany! Aku tau dia sakit aku tau umur dia enggak lebih dari 3 bulan aku tau dia cinta banget sama kamu aku tau kamu ngasih perhatian lebih ke dia Cuma buat ngebahagiain dia sebelum dia pergi! Tapi kamu ngertiin perasaan aku juga ga sih Der? Aku enggak tahan denger omongan anak-anak, aku enggak tahan denger cerita tentang kemesraan kalian berdua. Enggak cuma itu Der! Tapi liat kenyataannya, kamu udah jarang sms aku, jarang nelpon aku sekalinya aku yang nelpon duluan pernah kamu angkat Der? Engga kan Der? Kelas kita sebelahan Der, tapi kenapa buat ketemu kamu susahnya tuh setengah mati? 1 tahun Der kita pacaran, aku tahu itu emang belum lama, tapi kamu harus tahu itu juga enggak sebentar buat aku! Aku bener-bener kehilangan waktu bareng kamu. Pacar kamu tuh aku Der bukan nya Rany! Sampe kapan mereka ngira Rany pacar kamu? Kapan mereka tau kalau sebenarnya pacar kamu cuma aku seorang Der? Aku juga punya perasaan Der , tolong ngertiin aku,” Citan seolah menumpahkan sesak di dadanya.
“ Citan, yang ngejalanin hubungan ini kita berdua, buat apa dengerin kata orang-orang? aku akan belajar lebih ngertiin kamu, maaf kalo selama ini pengertian aku ke kamu kurang. Tapi please Tan, Rany umur nya enggak lama, dia butuh aku buat di sampingnya sekarang, tapi kamu enggak perlu takut aku selalu Cuma buat kamu.”
“ Terus kapan kamu bisa sama aku lagi? Kapan kamu selalu ada di samping aku?Oh, apa aku harus kaya Rany dulu? Aku harus sakit dulu sampe sekarat baru kamu bisa sama aku lagi?”
“Citan! Ngomong apaan sih kamu! Kamu ga pantes ngomong kaya gitu! Kenapa kamu ngomong kaya gitu? “
“Karena aku sayang kamu Der, aku takut kehilangan kamu. Kamu udah aku anggep sebagian dari hidup aku, ketika kamu jauh dari hidup aku, aku enggak tau apa ini masih bisa di bilang hidup? Karena apa yang aku anggap sebagian hidupku terlihat sangat menikmati kedekatannya bersama seseorang, dan seseorang itu bukanlah aku.“
Citan langsung berbalik badan dan berniat meninggalkan Dery, tapi baru beberapa langkah Citan tampak terlihat menghentikan langkahnya dan membalik badannya ke arah Dery.
“Kamu tau enggak Der? Kadang aku berdoa memohon sama tuhan, mungkin lebih baik aku di beri mati aja, karena dengan aku mati, mungkin kamu baru bisa ada di samping aku, menyayangi aku melebihi Rany atau siapapun di dunia ini. Aku udah berusaha ngertiin Der. Tapi ternyata aku enggak kuat. Maafin aku yang ga kuat sama semua ini,” langsung Citan membalikkan badannya lagi, terus berjalan tanpa mengiraukan Dery yang berulangkali memanggil namanya.
***********
Hujan deras tampak menghiasi malam ini, terdengar suara motor di depan rumah dan tak lama mengetuk pintu kediaman itu. Wanita itu pun segera membukakan pintu.
“Benar ini kediamannya Citan Handananta?” tanya seorang lelaki memakai jas hujan hitam dan tampak tidak sendirian, melainkan dengan temannya.
“Benar, ada apa ya?” tanya wanita itu.
“Apa anda orangtuanya?”
“Ya, tentu saya mamanya,” jawab wanita itu.
“Kami membawa kabar, bahwa anak ibu, Citan Handananta mengalami kecelakaan. Sekarang dia sedang dibawa ke rumah sakit terdekat dan ini kami bawakan barang-barang yang kemungkinan barang kepunyaannya.”
**********
Hari ini, sekolahan tak seperti biasanya, tampak lebih ramai dari biasanya, dan terlihat orang berdesak-desak bergantian memandang papan mading dan pandangan mereka sama, yaitu pada satu kertas pengumuman..
In memories,
Citan handananta
Semoga segala amal nya di terima di sisi Allah SWT
“Enggak mungkin,” benak Dery yang tenyata juga ikut berdesakan dengan penuh penasaran apa yang menjadi rebutan untuk di baca.
“Dery!” teriakkan seseorang membuyarkan lamunannya.
“Emang bajingan lo ya!” teriak perempuan itu lagi.
“Maksud lo apa Na?” tanya Dery binggung mendengar nada Kina yang begitu terdengar kesal dan tinggi.
“Nih! Maksud gue lo baca sendiri ! Gue nemuin itu di kolong meja nya Citan!” menyodorkan gumpalan kertas.
Kina langsung pergi tanpa meniggalkan kata-kata lagi pada Dery.
Perlahan Dery membuka gumpalan kertas itu dan membacanyan dalam hati.
Gue enggak tahu harus gimana ngegambarin perasaan gue sekarang. Bahkan dia pun enggak bisa jawab kapan dia bisa berada di samping gue lagi. Gue sayang banget sama Dery dan mungkin karena gue terlalu sayang, rasanya juga terlalu sakit. Sakit banget ngeliat dia, orang yang paling gue sayang lebih mentingin perasaan orang lain dibanding perasaan gue..
perasaan ini slalu buat lo Der, dan utuh buat lo, meskipun lo enggak pernah mau tau,meski pun lo sering ngecewain gue. Gue enggak bisa nunggu lama, mungkin kalo gue duluan yang pergi, baru lo bisa di samping gue Der.
"Kenapa harus gini Citan? Kenapa kamu ninggalin aku? Aku sayang kamu melebihi siapa pun yang aku kenal di dunia, maafin aku Citan. sungguh aku menyesal sama apa yang udah aku lakuin selama ini,” Dery mendekap kertas tulisan Citan, ada yang menggenang di sudut matanya.