Thursday, 10 November 2011

Musik dan Segaris Kehidupan

by Gibran Qadaranta

Di balik jeruji besi itu seorang pemuda terduduk santai sembari mengetuk-ngetukkan pensil ke dahinya. Dia terlihat sedang berpikir keras untuk menumpahkan sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Cukup lama dia terduduk di ruang sempit itu, hingga pada akhirnya tangannya mulai bergerak lincah menari di atas agenda kecil di tangan kirinya.

Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa dia sudah menjalani 1 tahun 6 bulan masa tahanannya. Walaupun dia sudah cukup lama mendekam di rumah tahanan, keahliannya dalam menulis bait demi bait lirik lagu masih pantas untuk dikagumi, terutama bagi para penggemarnya.

Saat masih bebas, lagu-lagunya mampu menyihir orang-orang terutama penggemarnya untuk langsung menghapal lagunya dalam sekali dengar.

Kini di sebuah rutan dia harus mendekam, atas kesalahan yang pernah di lakukannya. Dengan kesabaran dan ketabahannya serta dukungan dari orang-orang terdekat, dia mampu untuk tetap tegar. Beruntung dengan kerendahan hatinya dia tak perlu berlama-lama untuk beradaptasi dan mengenal rekan-rekannya sesama tahanan. Bahkan hanya beberapa minggu di rutan dia sudah merasa betah dan benar-benar sudah melewati masa adaptasinya.

Dia tergolong orang yang tidak bisa diam. Maksudnya adalah, dia ingin selalu berkreasi, beraktivitas, dan bersosialisasi. Bahkan, karena ketidakbisaan dia untuk diam, sebuah organ yang dulunya sempat rusak dan tidak terawat, sekarang terlihat baru dan bisa berfungsi lagi dengan baik. Dan dengan organ inilah dia bisa menyalurkan hasratnya untuk bermain musik, bahkan membuat lagu.

Dulu, saat masih bebas bermain musik adalah profesinya. Dengan grup music yang terdiri dari 5 orang dia dan rekan-rekannya aktif meramaikan dan menginspirasi industri musik Indonesia. Mereka tergolong grup musik yang sukses dan ini dibuktikan dengan angka penjualan salah satu dari kelima album mereka yang mencapai hingga 3 juta kopi.

Banyak prestasi yang telah dia raih bersama grup musiknya itu. Tapi hal itu harus dia lepaskan sejenak karena dia wajib menjalankan hukuman penjara sesua dengan vonis hakim. Dan sebagai warga Negara yang baik di wajib mematuhi dan menghormati vonis hakim tersebut.

Tepat saat dia sudah genap menjalani satu tahun masa tahanannya di rutan, dia berhasil membuat sebuah lagu lengkap dengan aransemennya. Dengan sebuah lagu ini, para penggemarnya yang setia menunggu dia bebas, terobati kerinduannya dan tak henti-hentinya memberikan dukungan. Lagu itu menceritakan tentang kehidupannya kini di rutan dan bagaimana dia ingin memberikan pesan terutama kepada orang-orang yang mendukungnya agar tidak bersedih dan tetap bersabar menunggunya.

Kini masih tersisa dua tahun lagi baginya untuk menjalani masa tahanan, dan saat dia bebas nanti akan kembali naik dan bersama grup musiknya dia akan kembali meramaikan musik Indonesia dan kembali mengsinpirasi kita semua dengan karya-karyanya. Para penggemarnya akan menunggu saat itu. Saat dimana dia berdiri gagah di panggung yang megah menyanyikan lagi lagu-lagu ciptaannya.

Sahabat

by Novy SA
Hati dan pikiran beradu
Ingin rasanya memutar waktu
Karena aku
Rindu masa- masa itu

Dikala aku sedih, kau menemani
Dikala aku senang, kau ikut riang
Namun mengapa
Sekarang kau tak lagi menyapa

Kujalani waktu tanpa raga mu yang biasa ada disampingku
Hanya fotomu lah yang tergantung di dinding kamarku
Isak tangis ku alami di malam-malam ku
Hai sahabatku, aku menyapamu
Namun mengapa kau hanya membisu

Duka Negeriku

by Hira  Listya Pinastika
Negeriku tercinta
Betapa indahnya suasanamu
Gunung yang hijau terbentang
Jalan yang panjang berliku
Menghiasi cantik kotamu
Kau sangatlah indah
Keindahanmu sangat menakjubkanku
Sehingga membuat , bola mataku , tak berkedip sedikitpun untuk menatapmu
Pandanganku tak lepas dari indah suasanamu
Aku terpesona melihat keindahanmu
Gemuruh air terjun
Hutan yang menghijau
Bunga-bunga semerbak mewangi
Kupu – kupu yang berkejaran
Cantik sekali

Tetapi
Kini kau sedang berduka , diliputi lara yang membahana
Sumateraku terguncang gempa yang menghancurkan dan memilukan
Kota porak poranda , bagai puzzle yang tak tersusun
Banyak jiwa yang resah , sukma yang melayang
Seakan terlepas dari raganya
Gedung yang menjulang tinggi ,bangunan yang megah
Sekarang rata dengan tanah
Tanpa sisa sedikitpun
Teriakan orang terdengar mengharukan
Rintihan saudara-saudara semakin menyakitkan

Saat ku tengok ke kanan dan kiriku
Semua hancur lebur tak teratur
Saat ku berlari kesana dan kemari
Kulihat tubah-tubuh bergelimpangan
Nyawa seakan tak berharga
Bagai dedauanan yang luruh di musim gugur
Rintihan dan tangisan pun terdengar di setiap penjuru
Anak yang mencari ayah ibunya
Ibu yang kehilangan anak tercintanya

Ibuku… Ibuku … Ibuku…
Ayahku… Ayahku…
Oh ayahandaku…
Ibundaku , dan saudara-saudaraku dimana gerangan berada?
Ku terjatuh , bangun dan terjatuh lagi untuk mencarimu
Hatiku sedih dan pilu , langkah ku hampir terputus
Menangis kehilangan dirimu
Hanya tangis , dan tangis yang dapat kulakukan saat itu

Ku tahu , ku yakin ibundaku , aku takkan kehilangan mu
Aku memohon kepadaNya
Ya Allah ……
Selamatkan ayah , bunda , dan saudara-saudaraku
Ku percaya hanya Tuhan yang menentukan umur kita
Ya Allah……
Aku berharap Engkau selamatkan saudaraku
Kebingungan dan rasa rinduku menjadi luka yang menoreh di hati
Ku yakin… ayahku… bundaku.. saudara-saudaraku
Mereka pasti selamat
Mereka pasti selamat!!!
Ku yakin itu
Namun , aku tak tahu entah dimana mereka berada




Nasib Alamku

by Hira Listya Pinastika
Alamku
Kau sangatlah indah
Keindahanmu sangat menakjubkanku
Sehingga membuat bola mataku tak berkedip sedikitpun untuk menatapmu…
Pandanganku tak lepas dari indah suasanamu
Aku terpesona melihat keindahanmu

Pasti
Semua orang mendambakan hidup di lingkunganmu
Alammu membentang luas
Hutan yang hijau lebat
Yang sunyi sepi
Yang terdengar hanya suara percikan air sungai yang jernih
Sehinggak membentuk nada-nada yang indah
Air terjun yang turun berliku-liku
Sangat unik dan indah di mataku

Tetapi , kini keindahanmu akan musnah
Pepohonan di tebang sembarangan
Pabrik -pabrik membuang limbahnya ke sungai
Hatiku sedih
Mataku tak lagi terhibur dengan keindahanmu
Dimataku hanya ada kepedihan
Tak ada lagi kota yang bersih dan udara yang segar
Hanya asap rokok , dan kendaraan yang ku cium di dunia ini
Oh , alam malang sekali nasibmu




Bunda

by Hira  Listya Pinastika
Bunda
Engkau telah melahirkanku
Engkau mendidikku dari kecil hingga sekarang
Kasihmu
Sayangmu dan cintamu
Tak terbatas untukku

Oh Bunda
Tiada apapun dan siapapun
Yang dapat membalas segala kebaikanmu
Wajahmu sangat menawan
Tatapan matamu menyejukkan relung hatiku
Kearifanmu , menuntun setiap langkahku

Bunda…
Hanya dirimu yang mengerti aku
Kebaikan yang kau ajarkan
Tulus ikhlas untukku
Senyummu s’lalu menghiasi wajah anggunmu.
Walau banyak hal yang kulakukan
Telah mengecewakanmu

Maafkan bundaku
Andai aku t’lah melukai hatimu
Aku tak ’kan mampu hidup tanpamu
Karena , hanya engkaulah tumpuan hidupku

Bunda
Aku ‘kan bersimpuh di kakimu
‘Tuk memohon ampun dan doa restumu
Agar tercapai segala angan dan citaku

Am I ?

by Novy SA

Sometimes
Sometimes I look at you
Sometimes I feel something that I can’t understand towards you
I’ve trying to forget about that feeling
But I don’t know why I can’t do that

Am I in love with you ?
Do I like you?
I don’t think so
Cause ,,
HEY we are different and you don’t like me
Yes I think I’m just …
Just what ??
I don’t know what kind of feeling this is

It’s impossible if I’m in love with you
Cause nothing special in you
For me love is reasonable
Not unreasonable

Selfish ?
Yes, It’s me

Bencana Alam

by Hira  Listya Pinastika

Dia datang mengoyak-oyakan negeriku
Seperti perahu yang tengah diterjang badai
Semua berhamburan tak teratur
Semua hancur porak-poranda
Hatiku sedih
Hatiku perih
Bagai teriris pisau yang tajam

Ibu…
Ayah
Aku menangis mencari mereka
Hingga aku terlelah

Bencana itu menghanyutkan jiwa-jiwa kami
Dan membiarkan nyawa kami terbang tak terarah
Apa yang harus kulakukan ??
APA YANG HARUS KULAKUKAN
Hanya doa kepadamu Ya Allah
Tempat aku mencurahkan semua isi hatiku
Semua kesedihanku
Semua kegelisahan & kebimbanganku

Sudah
Cukup sudah
Hentikan semua ini
Aku tak sanggup menerima ini semua
Aku sadar
Aku hanyalah makhluk kecil bagiMu Ya Allah
Engkau Maha Berkuasa
Engkau mampu mendatangkan bencana yang begitu dahsyat
Sehinnga aku tak sanggup menerimanya

Tapi … bagaimana dengan orangtuaku
BAGAIMANA KEADAAN MEREKA
Aku terus mencari mereka setiap saat
Tapi yang terlihat hanya orang-orang yang telah ditinggalkan oleh nyawanya
Aku mencarimu dari terbitnya mentari hinggal datang rembulan yang indah
Rembulan yang menyinari hancurnya kotaku
Aku berteriak
IBU !!! IBU !!! Mengapa kau tak menjawabku
AYAH !!! AYAH !!! Dimanakah dirimu
Aku mencemaskanmu


Kau tau …
Disini…aku sendiri
Aku sendiri untuk menerima ini semua
Aku menerima teriknya matahari yang menyengat dikala aku sedang mencarimu
Aku menerima kalau aku harus kehujanan menunggu jawaban darimu

Tapii ….
aku tetap yakin bahwa Allah akan selalu mendengar doaku
Ya Allah !! Selamatkan ibuku, ayahku, dan saudara-saudaraku
Hamba tahu ya Allah … hanya Engkaulah tempat aku berdoa
Ya Allah lindungilah mereka dimanapun mereka berada


Intro Sebuah Tangisan

by Gibran Qadaranta
Berarti bukan perbuatan
Hari bukan tantangan
Apalagi sinar bukan keajaiban
Melainkan semua yang berlalu di hari-hari berikut

Ini keindahan tanpa batas
Segaris jalan yang tak mungkin di tembus
Ini yang kita tunggu
Dari terbitnya matahari
Hingga terbenamnya mentari

Layar putih terhias
Suci dan menawan
Melambai hari dengan sinarnya
Membelai penuh kepastian
Dengan senyum tulus nan tipis
Terhenti tepat di sebelah jarum panjang

Waktu berjalan
Tak pernah berhenti
Apalagi berputar kembali

Hari ini...
Bukan hari biasa
Bukan hanya hari senin selasa dan seterusnya
Bukan

Hari ini...
Lahir insan beberapa belas tahun yang lalu
Dengan tangis kuat
Berkesan semangat tak berujung

Hari ini...
Hari kelahiran sesorang
Berbekal cahaya masuk ke hati
Yang dicintai

Hari ini...
Dia yang kucintai lahir
Dia yang kusayangi menyapa dunia belasan tahun yang lalu
Dia yang mengisi hati mengawali tangisnya yang pertama

Hari ini...

Hutanku

by Hira Listya Pinastika 

Hutanku yang hijau
Suasanamu sunyi sepi
Hanya gemericik air yang terdengar
Bagai melodi yang mengalun
Bermacam – macam kenampakan alam ada padamu
Beraneka flora nan indah , air sungai mengalir sangat deras
Bebatuan pun bermunculan di tepi sungai
Padang rumput yang menghijau
Angin bertiup sepoi-sepoi
Dan satwa pun hidup tentram dan aman di lingkunganmu
Ada kancil yang melompat
Ular yang mendesis
Kumbang dan kupu – kupu yang menghisap madu
Sangatlah indah
Kubangga akan keindahan negeriku

Kucium harum wangi bunga yang semerbak
Beraneka macam warnanya , cantik sekali
Kunang-kunang bersinar terang terlihat di malam hari
Anak kancil berlari – lari dikejar Raja hutan
Burung – burung berterbangan serempak mengepakan sayapnya
Dan hinggap dari pohon ke pohon yang lain
Gunung yang menjulang tinggi yang udaranya sejuk dan segar
Terkadang serigala mengau dengan kerasnya
Ketika bulan purnama
Kusangat menghargai keadaan dan isimu yang indah
Walau pun ku jauh dari mu ku akan selalu bangga akan keindahanmu
Tanahku tak ku lupakan engkau ku hargai







Pahlawanku

by Hira Listya Pinastika

Oh , pahlawanku
Betapa engkau gagah berani
Kau rebut Indonesia dengan keberanianmu
Tiada rasa takut dalam hatimu tuk melawan penjajah
Jerit , tangis dan kepedihan kau lalui dengan tekad dalam hatimu


Siksaan para penjajah yang sangat kejam
Takkan kau biarkan
Kau lawan penjajah untuk membela Indonesia
Hanya kemerdekaan yang ada dalam fikiranmu
Kau rela korbankan harta , bahkan nyawamu engkau korbankan demi Indonesia


Aku akan selalu mengenang jasa mu
Kini kau telah bersandar di bawah batu nisan dengan tentram dan damai
“Kamu yang akan meneruskan perjuangan ku untuk selamanya"
“Semoga , Allah menerima arwah di sisiNya"

Karena Aku Sayang


by Cornelia Verdiana
Senin, 9 Mei 2011
Kamu udah aku anggap sebagian dari hidup aku, ketika kamu jauh dari hidup aku, aku tidak tahu apa ini masih bisa di bilang hidup? Karena apa yang aku anggap sebagian hidupku terlihat sangat menikmati kedekatannya  bersama seseorang, dan seseorang itu bukanlah aku.

Seperti biasa, seperti hari-hari sebelumnya, Citan selalu tiba di sekolah lebih awal dari anak-anak lainnya. Inilah yang dia suka, suasana sekolah yang masih sepi, udara pagi yang mampu membuat bulu kuduknya merinding, bau rumput basah yang sengaja di siram oleh Pak Idam semenjak pagi tadi.
Kakinya pun terus melangkah sampai ketempat tujuan, tempat yang sangat tidak asing buatnya dan sering ia habiskan waktunya untuk menetap didalamnya. Ya, itu kelas nya. Dan seperti biasa, dia selalu menjadi orang pertama yang duduk di dalam kelas itu.

*******
 Kantin Bunda

Tan, sampe kapan sih lo mau backstreet gini sama Dery?Kina mencoba membuka pembicaraan.
“ Belum tau Na…” tanggap Citan penuh pandangan kosong.
“ Lo tau enggak sih Tan! Kemarin anak-anak pada ngomongin Dery! Mereka bilang si Dery jadian sama Rany ! gue enggak mau lo terus-terusan ngalah gini. Gue enggak mau nanti ini semua malah cuma bikin sakit hati lo. Dan gue sebagai sahabat, ikut-ikutan sakit ngeliat lo begini “
“ Kina, enggak mungkin Dery pacaran sama Rany! Lo tau sendirikan alesannya? Enggak mungkinlah Na!”
“Ya, tapi mau sampe kapan kaya gini? Lama-lama enggak bisa dibiarin Tan! Seharusnya yang mereka tahu tuh pacarnya Dery lo bukan Rany! “
“ Biarin dulu deh na, pasti ada waktunya. Gue percaya pasti ada..” kalimat Citan menggantung.
“Hah! Terserah lo deh Citan. Pokoknya jangan sampe apa yang gue omongin tadi beneran terjadi sama diri lo! Eh, by the way mau makan apaan lo? Bentar lagi masuk nih…”

*******

Tubuh lelah Citan akhirnya berhasil mendarat di kasur favoritnya. Kasur yang setia menemaninya walaupun terkadang harus rela mendadak menjadi pulau akibat air liurnya. Citan memutuskan untuk tidur tanpa memikirkan tugas sekolahnya yang amat bertubi-tubi.
Baru berniat untuk memejamkan mata, namun seperti ada yang kurang dipikirannya. Bergegas ia mengambil handphonenya dan tak ada satupun sms atau telpon dari Dery di layar handphone nya. Wajahnya  terlihat berubah mengkerut. Tanpa pikir panjang Citan mutusin untuk menelpon Dery terlebih dahulu..

Dery
Connecting…..

“Enggak diangkat. Kemana ya?” benaknya.
Karna lelah hanya mendengar nada sambung, Citan mematikan telponnya dan memutuskan untuk mengirim pesan.

Sent:
Der lagi apa? Telpon aku ko ga di angkat?
Jangan lupa makan ya sayang..

Citan terus memandang layar handphonenya, berharap tak lama Dery menjawab pesannya, tapi akhirnya dia memutuskan untuk tidur karna namanya tak kunjung muncul di layar handphonenya.

***********

Pelajaran terakhir hari ini adalah matematika. Tapi tubuh mungil Pak Hena belum juga muncul di dalam kelas itu. Suasana kelas pun saat itu sangat ramai dan salah satu penyumbang keramaian itu adalah sekumpulan perempuan yang duduk tepat di belakang Citan. Mereka terdengar sedang membicarakan seseorang, dan Citan kenal betul nama yang di sebut-sebut dalam pembicaraan mereka.
“Eh, si Dery makin mesra aja ya sama Rany,” suara Lisa samar namun jelas dan lekat terdengar di telinga Citan
            “Maksud lo,” Naya merespon pernyataan Lisa antusias
“Iya, waktu itu gue ngeliat mereka makan berdua di kantin  pas pulang sekolah, udah gitu pake acara suap-suapan lagi,” Lisa menambahkan bumbu cerita yang membuat telinga Citan kian panas.
“Namanya juga orang pacaran, wajar-wajar ajalah,” suara Vita terdengar tak tertarik menanggapi gossip teman-temannya.
“Oh, kemaren gue juga liat mereka ciuman pas lagi di restoran kemang!” Adel menambah informasi yang dia ketahui.
“Oh ya?” Naya menanggapi.
“Iyaa!” Adel meyakinkan teman-temannya yang seolah tak percaya dengan pernyataannya tadi.
“woooow!” suara Naya dan Vita terdengar antusias.

Tetesan air mata mulai tidak terkontrol di mata Citan..
“ Enggak usah didenger kalo cuma bikin lo nangis!“ senggol Kina sambil berbisik.
“Gue kok lama-lama ngerasa ga kuat Na. Dery juga udah jarang nelpon gue jarang sms gue, kemaren gue nelpon dia lagi dan lagi-lagi enggak diangkat. Gue enggak inget udah keberapa kali dia enggak ngangkat telpon dari gue. Gue kaya kehilangan dia Na,” ucap Citan dengan isakan tangis.
“Gue bilang juga apa! Ini tuh ga bisa di biarin Tan, lo perlu ngomong sama dia! Lo harus bicarain ini berdua baik-baik !”
“Ya Na, lo bener, gue perlu bicarain sama dia, gue akan  ketemu dia sepulang sekolah nanti.”


Citan langsung berlari ke arah kelas Dery waktu bel pertanda pulang berbunyi. Tapi mungkin Citan yang kurang cepat, teman sekelas Dery bilang kalau ternyata Dery udah keluar kelas sama Rany sejak dari tadi..
**********
Meskipun telpon darinya tidakpernah diangkat akhir-akhir ini, itu sama sekali ga membuat Citan putus asa, kali ini Citan mencoba menghubungi Dery lagi dengan berharap semoga kali ini telpon dari nya di angkat..

Dery
Connecting…..
“Angkat, Der,” ucap Citan dalam hati.
 “Halo,” tak lama terdengar suara dari yang dia nanti-nanti, suara yang sangat dia rindukan.
“ Halo Dery,” sapa Citan antusias.
“Ada apa?” suara di seberang telepon terdengar dingin menanggapi.
“ Cuma nanya kenapa? Yang ada kamu yang kenapa! Sms ku ga di bales telpon ku ga pernah di angkat! “
“Oh, aku lagi sibuk,” ucap Dery tak bersemangat.
“ Aku mau kita ketemu besok!” Citan langsung ke inti permasalahan.
“ Oke, abis pulang sekolah aku tunggu di lapangan basket!“ Dery menimpali.
 “Oh ya udah,” Citan tersenyum karena bahagia.

***********

Sesuai yang di bicarakan di telpon  kemarin. Citan dan Dery akan bertemu sehabis pulang sekolah dan ternyata Dery sudah menunggunya sedari tadi. Citan pun menghampirinya.
“Duduk Tan, ada apaan? “ Dery membuka pembicaraan.
Terdengar suara tarikan nafas dari Citan.
“ Ada apa kamu bilang? Ada yang salah Der sama kita berdua!” terdengar nada tinggi.
“ Maksud kamu? “ Dery seolah tak memahami arah pembicaraan Citan.
“Maksud aku mau sampe kapan kita kaya gini? Bener kamu pacaran sama Rany?”
“ Aku enggak pacaran sama dia! Kenapa sih kamu? “
“ Jujur aja Der sama aku! Kata anak-anak kamu pacaran sama dia!“
“Kamu sekarang lebih denger omongan anak-anak  dibanding sama aku? Sekali lagi aku bilang ke kamu aku sama sekali enggak pacaran sama Rany! Please Tan jangan kaya anak kecil. Dari awal kita tau kenapa aku ngelakuin ini. Kamu harus ngertiin posisi aku sekarang tan!“
“Oh, aku sangat ngertiin Der! Aku ngertiin kamu! Aku ngertiin Rany! Aku tau dia sakit aku tau umur dia enggak lebih dari 3 bulan aku tau dia cinta banget sama kamu aku tau kamu ngasih perhatian lebih ke dia Cuma buat ngebahagiain dia sebelum dia pergi! Tapi kamu ngertiin perasaan aku juga ga sih Der? Aku enggak tahan denger omongan anak-anak, aku enggak tahan denger cerita tentang kemesraan kalian berdua. Enggak cuma itu Der!  Tapi liat kenyataannya, kamu udah jarang sms aku, jarang nelpon aku sekalinya aku yang nelpon duluan pernah kamu angkat Der? Engga kan Der? Kelas kita sebelahan Der, tapi kenapa buat ketemu kamu susahnya tuh setengah mati? 1 tahun Der kita pacaran, aku tahu itu emang belum lama, tapi kamu harus tahu itu juga enggak sebentar buat aku! Aku bener-bener kehilangan waktu bareng kamu. Pacar kamu tuh aku Der bukan nya Rany! Sampe kapan mereka ngira Rany pacar kamu? Kapan mereka tau kalau sebenarnya pacar kamu cuma aku seorang Der? Aku juga punya perasaan Der , tolong ngertiin aku,” Citan seolah menumpahkan sesak di dadanya.
“ Citan, yang ngejalanin hubungan ini kita berdua, buat apa dengerin kata orang-orang? aku akan belajar lebih ngertiin kamu, maaf kalo selama ini pengertian aku ke kamu kurang. Tapi please Tan, Rany umur nya enggak lama, dia butuh aku buat di sampingnya sekarang, tapi kamu enggak perlu takut aku selalu Cuma buat kamu.”
“ Terus kapan kamu bisa sama aku lagi? Kapan kamu selalu ada di samping aku?Oh, apa aku harus kaya Rany dulu? Aku harus sakit dulu sampe sekarat baru kamu bisa sama aku lagi?”
“Citan! Ngomong apaan sih kamu! Kamu ga pantes ngomong kaya gitu! Kenapa kamu ngomong kaya gitu? “
“Karena aku sayang kamu Der, aku takut kehilangan kamu. Kamu udah aku anggep sebagian dari hidup aku, ketika kamu jauh dari hidup aku, aku enggak tau apa ini masih bisa di bilang hidup? Karena apa yang aku anggap sebagian hidupku terlihat sangat menikmati kedekatannya  bersama seseorang, dan seseorang itu bukanlah aku.“
Citan langsung berbalik badan dan berniat meninggalkan Dery, tapi baru beberapa langkah Citan tampak terlihat menghentikan langkahnya dan membalik badannya ke arah Dery.
“Kamu tau enggak Der? Kadang aku berdoa memohon sama tuhan, mungkin lebih baik aku di beri mati aja, karena dengan aku mati, mungkin kamu baru bisa ada di samping aku, menyayangi aku melebihi Rany atau siapapun di dunia ini. Aku udah berusaha ngertiin Der. Tapi ternyata aku enggak kuat. Maafin aku yang ga kuat sama semua ini,” langsung Citan membalikkan badannya lagi, terus berjalan tanpa mengiraukan Dery yang berulangkali memanggil namanya.
***********
Hujan deras tampak menghiasi malam ini, terdengar suara motor di depan rumah dan tak lama mengetuk pintu kediaman itu. Wanita itu pun segera membukakan pintu.
 “Benar ini kediamannya Citan Handananta?” tanya seorang lelaki memakai jas hujan hitam dan tampak tidak sendirian, melainkan dengan temannya.
“Benar, ada apa ya?” tanya wanita itu.
“Apa anda orangtuanya?”
“Ya, tentu saya mamanya,” jawab wanita itu.
 “Kami membawa kabar, bahwa anak ibu, Citan Handananta mengalami kecelakaan. Sekarang dia sedang dibawa ke rumah sakit terdekat dan ini kami bawakan barang-barang yang kemungkinan barang kepunyaannya.”

**********

Hari ini, sekolahan tak seperti biasanya, tampak lebih ramai dari biasanya, dan terlihat  orang berdesak-desak bergantian memandang papan mading dan pandangan mereka sama, yaitu pada satu kertas pengumuman..


In memories,
Citan handananta
Semoga segala amal nya di terima di sisi Allah SWT


“Enggak mungkin,” benak Dery yang tenyata juga ikut berdesakan dengan penuh penasaran apa yang menjadi rebutan untuk di baca.

“Dery!” teriakkan seseorang membuyarkan lamunannya.
“Emang bajingan lo ya!” teriak perempuan itu lagi.
“Maksud lo apa Na?” tanya Dery binggung mendengar nada Kina yang begitu terdengar kesal dan tinggi.
“Nih! Maksud gue lo baca sendiri ! Gue nemuin itu di kolong meja nya Citan!” menyodorkan gumpalan kertas.
Kina langsung pergi tanpa meniggalkan kata-kata lagi pada Dery. 
 Perlahan Dery membuka gumpalan kertas itu dan membacanyan dalam hati.


Gue enggak tahu harus gimana ngegambarin perasaan gue sekarang. Bahkan dia pun enggak bisa jawab kapan dia bisa berada di samping gue lagi.  Gue sayang banget sama Dery dan mungkin karena gue terlalu sayang, rasanya juga terlalu sakit. Sakit banget ngeliat dia, orang yang paling gue sayang lebih mentingin perasaan orang lain dibanding perasaan gue..
perasaan ini slalu buat lo Der, dan utuh buat lo, meskipun lo enggak pernah mau tau,meski pun lo sering ngecewain gue. Gue enggak bisa nunggu lama, mungkin kalo gue duluan yang pergi, baru lo bisa di samping gue Der.

"K
enapa harus gini Citan? Kenapa kamu ninggalin aku? Aku sayang kamu melebihi siapa pun yang aku kenal di dunia, maafin aku Citan. sungguh aku menyesal sama apa yang udah aku lakuin selama ini,” Dery mendekap kertas tulisan Citan, ada yang menggenang di sudut matanya.

Seventeen


by Novy SA

Saat itu langit biru menampakkan keceriaannya dan saat itu juga siswa kelas 2 SMP bernama Lola sedang menangis terisa-isak di dalam kamarnya, sambil memeluk bantal guling berwarna pink polkadot kesukaannya.
 “ Gue enggak mau pindah! Gue udah betah disini! Gue udah dapet kebahagiaan yang lebih disini, gue dapet temen banyak yang baik. Gue enggak mau nyari temen baru lagi, gue udah dapet lebih dari cukup dari temen gue di sini”.
Lola mengeluarkan air matanya dari jam 2 siang, tepatnya setelah papanya Lola pulang dari kantor dengan senyum yang mengembang terpancar di wajah lelahnya, sang papa memilih duduk bersantai di atas sofa sambil melepas lelah untuk memberitahukan kabar berita yang ia bawa. Lola, Rian adiknya Lola dan mamanya juga duduk di sofa mendengarkan berita dari papa.
 “Mama, Lola, dan Rian pasti seneng deh kalau kita semua tinggal di luar negeri,” kalimat pertama yang diucapkan sang papa membuat hati Lola sedikit gelisah.
 Dengan senyum bahagia papa berkata, “Papa ditugaskan di luar negeri sebagai Athan, tepatnya di Rusia Moskow, dan satu keluarga akan ikut semua.”
Betapa girangnya keluarga tersebut, namun hanya Lola yang bersedih karena tidak  ingin meninggalkan teman-temannya di sekolahnya yang menurut Lola baik semua. Menurut informasi yang di dapat, Lola sekeluarga akan berangkat tahun depan.
***
Beberapa bulan kemudian papa Lola mengajak Lola dan Rian untuk ikut papanya menemui calon rekan kerjanya nanti di Rusia yang sedang berlibur di Indonesia. Lola agak tertarik untuk ikut dengan sang papa, lalu berangkatlah mereka bertiga mengendarai mobil pergi ke Mcd Kalimalang untuk menemui rekan kerja papa tersebut.
Sesampainya di sana mereka bertiga bertemu dengan orang yang dicari yaitu calon rekan kerja papa yang bernama Om Bambang. Saat Om Bambang berjabat tangan dengan Lola, ia bertanya
“ Namanya siapa?Kelas berapa?” Om Bambang bertanya ramah pada Lola.
 “ Saya Lola Om, kelas 2 SMP,” jawab Lola dengan sopan,
“Oh, kelas 2 SMP ya ? anak Om juga ada yang kelas 2 SMP, kebetulan rumah Om deket dari sini, sebentar ya Om panggilkan anak Om, biar kamu ngobrol dan bisa nanya sama dia tentang sekolah di sana”
Lola hanya menjawab, “ Ehh, iya Om.”
Tidak lama kemudian anak Om Bambang datang, dan Lola melongo dengan muka setengah percaya kalo itu anak Om Bambang, of course Lola melongo, anak Om Bambang datang hanya dengan menggunakan boxer yang dipadu kaos oblong, namun kepelongoan Lola berubah menjadi butterfly di perutnya, mukanya merah, dan darahnya terasa mengalir deras melalui nadinya.
Mukanya semakin memerah saat anaknya Pak Bambang mengajak berjabat tangan untuk berkenalan.
 “Hey gue Derby,” dengan senyum dasyatnya yang membuat Lola semakin  grogi dan salah tingkah, sambil menunduk melihat ke lantai karena malu wajahnya sudah memerah seperti kepiting yang sedang direbus. Setelah berkenalan duduklah mereka semua di meja yang berbeda, Om Bambang, papa Lola dan Lola duduk di meja depan dan sisanya, Rian dan Derby duduk di meja belakang.
Lola yang merasa tidak nyaman duduk bersama Pak Bambang dan papanya, memutuskan untuk pindah ke meja di mana Derby duduk. Karena malu si Lola jadi salah tingkah, ia agak membanting tas selempang yang di bawanya di meja Derby. Percakapan pertama dimulai dari Rian yang menanyakan bagaimana keadaan sekolah di Moskow, lalu berlanjut hingga muncul canda dan tawa di percakapan mereka.
Time is up.
Oh Tuhan, betapa berat hatinya Lola, Derby,dan Rian untuk mengakhiri percakapan mereka yang berlangsung dua jam lebih.
Waktu telah berlalu ditemani angin berhembus yang menyertai kesibukan keluarga Lola untuk pindah ke Moskow. Tibalah mereka di bandara internasional Soekarno Hatta. Langkah Mama, Papa, Rian, dan Lola mengantar mereka ke pesawat Emirates yang sudah siap dengan pramugari dan pilot mengatar penumpang ke tempat yang dituju.
Sampailah mereka di bandara internasional Domodedovo. Lola dan keluarganya merasa sangat senang saat sampai di Moskow, karena waktu itu salju putih sedang berjatuhan dari langit. Mereka dijemput oleh orang suruhan Kedutaan Besar Republik Indonesia atau KBRI. Dengan mobil karavel, keluarga Lola di antar ke sebuah apartemen yang sudah disiapkan oleh KBRI untuk keluarga Lola. Apartemennya terbilang besar dan biaya sewanya pun begitu.
***
Hari pertama Lola dan adiknya belajar di Sekolah Indonesia Moskow atau SIM, Lola merasa senang walaupun hanya punya dua teman di kelas. SIM adalah sekolah yang unik di mata Lola, jumlah murid di sekolah ini adalah tiga puluh murid dari TK hingga SMA. Dikelas Lola hanya mengernal Derby, ia belum terlalu kenal dengan Nica.
Dikelas saat tidak ada guru dan Nica sedang ke toilet, Derby selalu membuka percakapan dengan Lola dan Lola selalu tersenyum saat diajak bicara.
“ Cantik, kedinginan enggak?” kalimat itu keluar spontan dari mulut Derby saat di kelas hanya ada Lola dan Derby berdua. Mendengar kalimat itu mata Lola membesar dan menoleh ke belakang tempat di mana Derby duduk,
 “Lo ngajak ngomong gue ?” balas Lola sambil menunjuk dirinya.
 “ Iya, lo kedinginan ga ?” ucap Derby sambil jalan ke arah heater yang ada di dekat Lola dan menyalakannya. Mata mereka bertemu dihiasi senyum dan kemerah-merahan di pipi mereka saat Derby kembali ke kursinya.
***
Hari- hari berlalu indah untuk Lola yang semakin dekat dengan Derby. Hasrat ingin memiliki Lola pun sudah membendung di hati Derby dan bercampur dengan rasa sayangnya kepada Lola.
Di suatu koridor kebetulan hanya ada mereka berdua, Lola dan Derby. Lola menyenderkan bahunya di dinding sambil melepas lelah yang dideritanya karena membawa tasnya yang berat. Derby 10 meter dibelakang Lola, memperhatikan Lola, dan mengumpulkan keberanian untuk mengungangkapkan perasaan sayangnya ke Lola. Derby menghembuskan nafas yang panjang, dia berdiri tegak dengan segenap keberanian dan hati yang berdebar kencang, dia mendekati Lola.
“ Lola, lo mau enggak? Ummm sorry this is sound crazy, but ummm I love you Lola, would you be my girlfriend ? ”
“Sorry ya Der.”
 “Sorry kenapa La ?”
Dengan wajah yang merah merona dan merasa bersalah, Lola menjawab
“Gue belum siap pacaran.”
Sekejap Lola menghilang dari koridor, yang ada hanya Derby ditemani bayangannya dengan perasaan kecewa.
***
“ Yak ! breaktime,” teriak Nica sambil membereskan bukunya.
 “ La, ke Lab komputer yuk? Gue ada perlu, accompany me ya?”
“ Sippo,” jawab Lola dengan senyum.
“Cieeee!! Lolaaa!! Udah jadian sama Edo yaaa ?” sambutan dari kakak kelas Lola bernama Nana yang sedang mengerjakan tugas di lab komputer.
Congrats and long last ya!”
Dengan senyum lebarnya Lola menjawab, “Thanks kak.”
Kenyataan pahit itu diterima Derby dengan tangis di kamarnya sambil menonjok tembok yang tidak bersalah berkali-kali.
***
 “Yang sabar yah La,” Nica menghapus air mata Lola.
“ Edo bilang dia bakal setia sama gue, bakal nerima semua kekurangan gue! Tapi apa buktinya? Dia mutusin gue gara-gara sikap childish gue. Bayangin dong! gue baru dua minggu jalan sama dia. Gue nerima dia waktu itu juga terpaksa, gara-gara dia ngancem bakal enggak masuk sekolah, dan pas pertamakalinya dia nembak gue, dan gue tolak, lima hari dia enggak masuk sekolah. Sampe dia nembak gue untuk kedua kalinya masih gue tolak, dan yang ketiga kalinya baru gue terima dan gue coba untuk sayang sama dia. Gue nerima dia karena gue enggak mau dia nyiksa diri dia, gue mau dia fokus ke sekolahnya. Gue enggak tega ngeliat dia kaya gitu, tapi apa yang gue dapet. Gue dapet sakit Ca! Gue yang sakit, di saat gue udah bisa sayang sama dia!”
Tangis Lola semakin meluap di ruang perpustakaan yang tidak ada orang sama sekali. Tiba-tiba dari pintu perpustakaan datang Derby membawa sekotak tisu untuk Lola.
 “ Nih, hapus air matanya, jangan nagis lagi ya, nanti cantiknya ilang.”
Kalimat itu menjadi obat untuk Lola.
“ Oh iya Der, congrats yaa sama Ayu! Cieeeh bisa banget lo nyari pacar di Indonesia,”
sahut Nica dan Derby hanya tersenyum.
***
            Tujuh belas bulan telah berlalu, Lola masih single, Derby pun baru putus dengan pacarnya, karena Derby sudah terlalu sakit dengan pacarnya dan saat diputuskan oleh pacarnya yang ke empat kali, Derby mendapat pengarahan dari sahabat- sahabatnya untuk tegar  dan tidak memohon untuk kemabali lagi dengan si Ayu.
***
            “I love you, please don’t ignore me, I am the only person that love you from my heart, I’ve been saving my feel for seventeen months towards you. I’ve tried to replace you, but my

 


Tujuh belas tahun kemudian…

Photos by Suryo H











credits : http://about.me/cypede

Wednesday, 9 November 2011

Photos by Novy SA












credits : http://about.me/novysa

About Us


We are Indonesian School Moscow students. We create this WeBlog to express our ideas and creativity in our school. Such as article, poetry , short story, experiences, photo design, and video interactive. So enjoy our WeBlog site and please feel free to leave a comment. Cheers!

Мы студенты Индонезиской Школе в Моске. Мы создали этот Блог чтобы выразить наши идеи и поделиться нашым творческим успехом. Читайте и наслаждайтесь постами в нашем Блоге.

Kami siswa siswi Sekolah Indonesia Moskow membuat WeBlog ini untuk mengekspresikan ide dan kreatifitas kami. Seperti artikel, puisi, cerpen, pengalaman, foto, desain, dan video interaktif. Selamat menikmati WeBlog site kami. 


SIM WeBlog Team.






               ***********************************************************


Team WeBlog

Penanggung jawab dan Penasihat : M Aji Surya
Pembina : Joni Sutaryono
Pembimbing : Netti Kurniati, Roy Numan Asta

Ketua : Lestari Noorikawati Anggraeni
Sekretaris : Cornelia Verdiana, Novy Syahbrina Azara
Editor : Gibran Qadaranta, Suryo Hidayat