by Netti Kurniati
“Mbah Mar, makan dulu ya. Nunik bawakan bubur, tapi tenang saja kali ini tidak pakai ayam hanya bubur,” aku mencoba memasukkan sesuap bubur kepada wanita ringkih berumur mendekati kepala tujuh ini.
Dia menunduk saja, tak ada gerakan seperti biasa. Kalau pun dia mau memakannya pasti dengan tindakan protes, hampir dua tahun aku mengurusi wanita yang menurutku pasti dia cantik selagi muda. Aku mendekat, mendongakkan dagunya. Lalu seperti menyuapi anak kecil, aku membuat gerakkan seolah sendok itu adalah pesawat terbang yang siap landas. Tanganku ditepis, lagi untuk kesekian kali tanpa suara hanya gerakkan tangan yang menandakan dia menolak, sendok berisi bubur jatuh. Tanganku hilang keseimbangan, mangkuk yang kupegangi pun tumpah. Seragam putihku basah, hangat merambat ke kulit bagian perutku.
Aku menghela napas, “Ya sudah, kalau memang enggak mau makan Mbah Mar kan bisa bilang.”
Kupungut sendok dan juga mangkuk yang berserak. Aku melangkah ke luar meninggalkan Mbah Mar sendiri di kamarnya yang hanya melulu putih. Tak ada yang heran melihat seragamku kotor kena bubur. Seperti biasa, perawat lain sudah paham, kalau jam jagaku mengurus Mbah Mar pasti berakhir tragis.
“Mbak, tolong pel lantai kamar 56 ya, kamarnya si embah. Biasa, buburnya tumpah,” aku meminta cleaning service panti untuk membersihkan kamar Mbah Mar.
Dia hanya mengangguk dan bergegas mengambil alat pel dan ember berisi air, aku melangkah menuju dapur dan meletakkan mangkuk dan sendok yang telah habis, gagal lagi aku memaksa si mbah makan. Tapi, kalau sudah lapar biasanya dia tidak akan menolak. Suasana hati perempuan berumur itu tak bisa ditebak. Aku mengibas seragamku dan mengelapnya dengan kain basah, mencoba untuk membersihkan. Bekas bubur sangat lengket. Tak terlalu berhasil, tapi lumayan setidaknya bekas buburnya tak begitu tampak lagi, tapi kini seragamku sempurnah basah.
Aku melangkah gontai, senja mulai merangkak. Walau matahari sudah mulai tenggelam, tapi peluhku menjalari bagian punggung. Hampir dua tahun mengurusi Mbah Mar, tak pernah sekali pun aku melihat anaknya berkunjung. Aku hanya mendengar kabar dari kepala perawat kalau anaknya hanya satu, laki-laki. Sibuk dengan pekerjaannya, dan di luar negeri. Kupelajari berkas-berkas mengenai perjalanan hidup Mbah Mar, tapi tak ada sedikit pun catatan yang menunjukkan Mbah Mar punya gangguan kesehatan atau kejiwaan. Aku duduk di ruangan jaga. Menulis laporan tentang Mbah Mar siang ini.
“Eh Nik, si embah enggak mau makan lagi,” Rima yang baru selesai mengontrol nenek-nenek lainnya mengambil kursi dan duduk bersebelahan denganku.
Aku mengangguk lemas.
“Ya, nih hasilnya,” aku menunjuk bekas bubur yang tumpah sambil menatap hampa padanya.
“Ya, namanya juga nenek-nenek pikun, aku rasa memang fase mereka balik lagi kaya anak kecil Nik,” Rima berusaha menabahkan hatiku.
“ Malam takbiran, lagi kita harus bertugas ,” aku mengalihkan topik, bosan membahas Mbak Mar yang membuat laporanku tak ada kemajuan.
“Ya, mana lo mesti jagain Mbah Mar lagi pas malem takbir, kalo nenek yang lain enggak pernah ada masalah, pada nurut aja.”
Ternyata benak Rima sama denganku, tak kulanjutkan percakapan ini, kami tak meratapi nasib di malam takbir, tak bisa bersenda gurau dan berkumpul bersama keluarga. Nenek-nenek di sini tentunya lebih membutuhkan kami ketimbang keluarga di rumah yang kurang satu anggota keluarga pun masih tetap ramai. Di panti ini, jauh dari harapan, tersiksa dalam sepi. Para ‘bekas’ orang tua yang mestinya dijaga dan dirawat dengan sebaik-baiknya menjelang senja malah harus merengkuh sepi.
“Mbak Nunik....,” teriakkan cleaning service membuatku dan Rima terlonjak. Suaranya lantang dari koridor berlari-lari menuju ruangan jaga.
Terengah-engah Mbak Prapti menuju ruangan jaga. Aku dan Rima menatap heran cleaning service jelita ini.
“Ada apaan mbak?” Rima bertanya penasaran.
“Anu sus....itu....aduh, “ Mbak Prapti seperti ingin menjelaskan sesuatu yang kompleks, antara pikiran dan lisannya tak dapat berkoordinasi dengan baik.
“Mbak, tenang. Ada apa, ceritakan pelan-pelan,” aku menepuk-nepuk pundak Mbak Prapti untuk menenangkannya.
“Ada apaan si mbak?” Rima masih penasaran dengan kepanikkan Mbak Prapti.
“Mbah Mar teriak-teriak sus, suaranya serem,” Mbak Prapti menjelaskan kepanikkannya.
“Ehh, urusin tuh nenek lo, “ Rima melirik ke arahku.
Aku bergegas menuju kamar 56, langkahku tergesa-gesa. Matahari kian tunduk pada malam, peluhku menetes di sudut bibir, mengucur deras karena kecepatan jalanku yang setengah berlari. Ada apa lagi dengan si mbah, selama dua tahun dengan ulah mogok makannya, baru kali ini dia berulah berteriak. Kutarik grendel pintu yang mulai berkarat di sudut-sudutnya, karena panti ini sudah berumur sama seperti penghuninya yang renta dimakan waktu. Saat aku datang, si mbah diam tak bersuara, padahal sebelumnya dari jarak lima meter aku sudah panik bercampur takut mendengar teriakannya, seperti suara anak kecil yang kehilangan ibunya di tengah keramaian dan suara si mbah lebih memilukan dari itu.
“Mbah Mar, kenapa?” aku mendekati si mbah yang berjongkok dekat dengan tempat tidurnya.
Si mbah mendekap kalung yang berhias liontin hati itu sambil terisak. Tak ada reaksi saat aku memanggilnya. Kucoba untuk mengelus pundak si mbah. Dia diam, biasanya dia akan menepis segala bentuk kontak fisik dengannya. Bahkan untuk mengelap tubuhnya, aku mesti meminta bantuan dua orang untuk memegangi si mbah.
“Mbah, ada apa?” walau aku tahu akan gagal dengan pertanyaan ini, aku tetap berusaha agar nenek renta ini mau bercerita apa pun kesedihannya.
Seperti yang sudah kubayangkan sebelumnya, dia bergeming. Aku mencoba mengangkat si mbah agar tak duduk di lantai. Kupapah dia untuk duduk di tempat tidur. Si mbah ini memang tergolong ‘tamu’ spesial di panti ini, karena keluarganya selalu rutin membayar uang panti dan juga selalu disisipkan bonus tambahan sebagai sumbangan untuk panti ini, itu yang sering diceritakan suster kepala kepada kami.
Si mbah kunaikkan ke atas kasur, aneh kali ini pun dia tak menolak. Dia berbaring di atas kasur dengan sprei tak ada motif dan juga warna menarik ini. Mata si mbah menerawang ke langit-langit kamar, seperti garis lurus dan datar.
“Mbah, kalau ada apa-apa bilang sama Nunik, kali aja Nunik bisa bantu,” aku tetap mengoceh walau pun tak paham benar si mbah bakal mendengarkan ucapanku ata tidak. Kupikir tak ada salahnya membuat si mbah merasa dibutuhkan dan ada teman.
“Mbah, Nunik di rumah punya kucing baru lagi, namanya Geisa, mbah tau enggak, papa yang belikan, soalnya papa tahu dari dulu Nunik cinta sama binatang. Geisa bulunya cantik mbah, matanya juga cantik mbah. Tapi, tenang aja mbah. Mbah jauh lebih cantik dari Geisa dan lebih cantik dari Nunik,” aku bercerita tak penting.
Matahari tunduk pada malam, mulai tenggelam. Aku masih menemani si mbah, kulirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku, sudah magrib. Aku mesti sholat dan istirahat sebentar. Karena harus jaga sampai pagi besok.
“Mbah, Nunik pamit mau menghadap Tuhan dulu ya,” kupancarkan mata binarku ke arah mbah yang tak juga bergerak dengan posisi awalnya, hampir dua puluh menit dia tak mengubah posisinya dan tetap kalung berliontin digenggamnya.
Aku ke luar dari kamar 56 ini dan melangkah ke mushola panti, menunaikan kewajibanku. Aku menerka-nerka, benda bersejarah yang sudah menemani perjalanan mbah di panti hampir dua tahun ini. Mungkin itu pemberian anak laki-lakinya itu atau pemberian suaminya. Kisah hidup si mbah selalu menarik, hanya untukku saja. Hanya beberapa suster yang kulihat di mushola, biasanya mereka lebih senang di ruang jaga masing-masing untuk sholat. Aku bergegas mengambil air wudhu, membasuh wajah membuat lelahku setidaknya berkurang. Sepuluh menit, aku tenggelam dalam khusyuk dan ketenangan batin. Suara jangkrik menemaniku, lorong-lorong panti sepi. Hanya suara langkah sepatu perawat terdengar. Jam segini waktunya memberi si mbah obat. Aku menyelesaikan sholatku.
“Nik, ada surat untuk si mbah, seperti biasa,” Rima mengagetkanku.
“Diletakkan dimana?”
“Meja lo, si mbah juga mesti minum obat tuh, gue mau sholat dulu, udah buka belum lo?”
Aku sampai lupa harus membatalkan puasa terakhirku di Ramadan ini. Rima berlalu dihadapanku, aku melipat mukenaku dan ingin menyelesaikan tugasku memberi si mbah obat dan tentunya membatalkan puasaku. Benar saja, pekatnya malam semakin menambah kesan mencekam panti ini, hanya saja ini malam takbiran, walau masjid jaraknya cukup jauh aku bisa mendengar bunyi bedug dan gema takbir yang dikumandangkan, selalu merdu dan menyejukkanku.
Kuteguk segelas air yang kuambil dari dispenser di ruang jaga. Benar saja, seperti biasa, surat di malam lebaran dan juga hadiah untuk perawat jaga selalu diberikan keluarga si mbah, malam ini aku yang mendapat kesempatan membacakan surat untuk si mbah walau aku tak berharap dia akan memahami isi surat dari sanak keluarganya itu. Kubuka bingkisan berwarna cokelat yang diberikan untukku sebagai ungkapan terima kasih mereka karena menjaga si mbah di malam spesial ini. Kubuka bungkusnya, ternyata isinya baju kaos polos berwarna merah hati, ada kartu ucapan di dalamnya. Kubuka amplopnya,
Selamat Hari Raya Idul Fitri dan terima kasih telah menjaga ibuku.
Singkat tanpa basa-basi, tak ada inisial nama. Aku menutupnya dan kuletakkan di laci. Satu amplop lagi, tentunya ini milik si mbah. Aku ke ruangan obat-obatan dan mengambil obat untuk si mbah dan tentunya beserta amplop berwarna biru ini yang akan kubacakan untuk si mbah. Kulangkahkan kaki menuju kamar 56.
Si mbah masih di posisi yang sama, kuhitung sekitar empat puluh menit dari kutinggalkan sholat hingga sekarang. Kalau orang normal, pasti tak akan betah dengan posisi yang sama. Aku menyodorkan tiga butir kapsul dan mencoba membuat si mbah duduk. Aneh, kali ini dia menurut tak ada aksi penolakan yang seperti dia lakukan sebelum-sebelumnya. Tiga kapsul itu di telannya, mengalir bersama air putihnya.
“Mbah, ada surat untuk mbah. Boleh kubacakan?” aku melihat mata mbah, kosong dan tak ada jawaban.
Kurobek amplop berwarna cantik itu, secantik mata Mbah Mar malam ini. Bunyi takbir masih bersahutan walau suaranya samar, aku bisa merasakan kemenangan seluruh umat malam ini. Tapi, entahlah dengan orang tua di panti ini, di waktu yang sama rasa sepi bercampur aduk dengan riuhnya suara takbir yang bersahutan.
Tiba-tiba mbah menarik tanganku saat hampir kutarik surat dari amplop itu. Kuurungkan niatku untuk mengeluarkan surat itu, aku kaget dengan reaksi si mbah yang seperti paham dengan yang akan kulakukan.
“Mbah, enggak mau Nunik membaca suratnya ya,” aku mencoba memahami makna gerakan si mbah tadi.
Mbah tak juga memberikan tanda-tanda akan bersuara, dia masih memegang tanganku. Kalung berliontin hati itu baru kusadari telah berpindah ke lehernya. Kuamati kerutan-kerutan di wajahnya tapi tetap menyisakan kecantikkan di wajah si mbah.
“Kalau mbah enggak mau Nunik bacakan, suratnya biar mbah baca aja sendiri ya, barangkali memang ada rahasia di dalamnya yang tak boleh Nunik baca.”
Tiba-tiba mbah melepaskan tangannya dan mengambil kalung yang tergantung di lehernya. Seperti memberi aba-aba padaku, dia memintaku membuka liontin berbentuk hati itu. Kubuka liontin itu, berisi foto wanita cantik dan seorang anak kecil di sampingnya. Tak tampak jelas lagi foto itu, bukan saja ukurannya yang kecil melainkan juga warnanya hitam putih dan mulai memudar membuatku tak bisa mengenali dengan jelas wajah di dalam liontin itu.
“Ini embah ya,” aku mencoba memancingnya.
Mbah menerawang, dia menarik amplop dalam genggamanku. Aku diam, tak paham benar keinginanya. Mbah merobek amplop cantik itu. Sepi dan malam makin menggambarkan kesedihan wanita tua ini. Aku ingin mencegahnya, tapi tak mampu kugerakkan tanganku. Kulihat ada yang menggenang di sudut wanita tua itu.
Malam kian larut, takbir berkumandang walau tak jelas aku bisa merasakan sunyi di lebaran kali ini. Mbah tiba-tiba memelukku dan menangis di pundakku, aku membalas pelukannya erat. Kami terbenam di malam lebaran ini.
(NK-5 November 2011)
http://netti.radhie.com
No comments:
Post a Comment