Friday, 25 November 2011

Biarkan Sayap Ini Patah

 by Netti Kurniati
2 Mei 2010

Pa, ini kali pertama aku menuliskan surat untukmu, tepat di hari ulang tahunku. Surat yang kutitipkan dalam malam panjang. Aku ingin mengabarkan aku dan si kecil baik-baik saja di tempat ini. Tapi Pa, aku lupa bahagia itu seperti apa, lupa wajah teduhmu yang selalu menguatkan aku. Sekali lagi, aku ingin mengintip senyummu lewat surat ini yang aku pun tidak pernah tahu akankah kau baca atau malah tak akan pernah sampai. Kugores langit walau kelam dengan namamu dan kulukis wajahmu agar aku tak lupa akan selalu ada kasih untukku dan si kecil.
Pa, bagaimana kabar mama. Masihkah dia seperti dulu ketika senyum gadis kecilnya mengembang dan dia akan memelukku erat. Aku takut membayangkan mama tak lagi mampu memelukku. Sampaikan kalau gadis kecilnya masih sama seperti dulu, mencintai dia.
Aku ingin sekali pulang, tapi belum saatnya. Jika aku pulang, akan kubawa si kecil dalam pangkuanku. Biar mama dan papa dapat mencium pipi mungilnya yang juga tak kalah rindu dengan dua orang yang paling aku cintai di dunia ini. Sampaikan pada Sisi, hamster mungil yang mulai terbengkalai karena tuannya mulai sibuk dengan dunia kecilnya. Katakan pada Sisi, jika nanti aku pulang, tak akan kutelantarkan lagi dia. Pa, surat ini kutitipkan dalam malam panjang agar kau selalu ingat, gadis kecilmu masih sama.

10 Maret 2010
“Papa, Meisya berangkat kuliah dulu ya,” kucium tangan beliau dengan takzim, ritual pagi yang selalu kulakukan jika hendak pergi dari rumah.
“Sudah sarapan?” aku hapal dengan pertanyaan papa.
Tidak kujawab, aku berlari ke luar rumah karena Pras sudah menjemputku di luar. Pras lebih penting saat ini, ketimbang pertanyaan papa selama 15 tahun setiap aku akan berangkat sekolah hingga kuliah.
“Meisya, jangan lupa sholat zuhur dan ashar,” teriakkan papa dari dalam membuat mukaku merah padam dihadapan Pras.
“Anak papa, Mei-mei udah minum susu?” Pras kerap menggodaku dengan panggilan kesayangan papa Mei-mei, dan aku benci karenanya.
“Pras,mau berangkat sekarang atau kita mulai perangnya dari pagi,” aku merengut manja pada Pras karena menggodaku.
“Mei, lebih baik menghadapi perang dunia ketiga daripada harus mendengar ocehanmu sepanjang hari, naiklah ke mobil nanti terlambat tiba di kampus.”

Pras, pria ini tidak tampan. Tapi, sungguh demi segala pria yang ada di Bumi, aku tergila-gila padanya. Kulit sawo matang, alis tebalnya, semua kemelekatan fisik membuat mataku tak ingin berpaling ke manapun, termasuk teriakkan papa pagi ini, mengingatkanku soal sarapan dan ibadah. Sampai hari ini pun, papa tak pernah menyukai Pras. Tak pernah ada alasan.

18 Maret 2010
“Pa, Mei mau ada kegiatan kampus. Kita akan mengadakan Latihan Dasar Kepemimpinan untuk mahasiswa baru di daerah puncak, Mei panitia pa,” kulirik mata papa yang menyorotkan ketidaksetujuannya. Aku takut, tapi aku harus mengatakannya.
“Mei, kalau saja papa punya anak empat, lima, atau bahkan sepuluh. Kekhawatiranku tidak akan sejauh ini. Hanya saja, Mei sudah cukup dewasa untuk memahami apa yang papa inginkan dari Mei. Pikirkan saja kuliahmu baik-baik.”
Aku menunduk, marah. Jelas saja, aku bukan lagi Mei umur lima tahun yang harus duduk dipangkuan papa sambil memegang lolipop dan mendengarkan dongeng dari pria yang kupanggil papa ini.
“Pa, Mei paham tentang kekhawatiran papa pada Mei, tapi pa Mei sudah berumur 20 tahun. Mei hanya ingin papa mengingat itu. Mei malu pada teman-teman kampus Mei. Mereka diberikan kebebasan untuk berkreasi. Sedangkan Mei, anak rumahan yang hanya pulang rumah dan pergi ke kampus. Mei mohon, papa mengabulkan permintaan Mei kali ini saja,” sambil berkaca-kaca aku menatap lekat ke arah papa.
Mama seperti biasa, dia tidak akan membelaku kalau sudah berurusan dengan papa.
“Pras ikut?”
Aku diam, hening sejenak. Suasana yang memang sejak tadi tidak bersahabat kian membuatku terpojok.
“Pras, pastinya ikut. Dia ketua acara ini,” kujawab jujur pada papa.
“Kalau begitu, Mei tetap di rumah,”  papa meninggikan volume suaranya untuk meyakinkan kalau aku memang mendengar ucapannya.

20 Maret 2010
Pras, jemput aku di gang depan rumah jam 10.
Kukirimkan pesan singkat ke nomor Pras, terkirim. Aku tinggal menunggu papa dan mama berangkat ke kantor. Aku akan tetap pergi. Tidak peduli pada amarah dan kekerasan hati papa. Aku hanya ingin bersama Pras. Pras yang memahami kondisiku, Pras yang mampu memanjakanku.

“Mei, kamu yakin tidak mau ke dokter,” papa masuk ke kamarku dan mulai mengecek kondisiku yang sebenarnya tak sakit.
“Mei sehat pa, Mei Cuma ingin ke puncak ikut kegiatan kampus, nanti malam berangkat. Hanya itu yang membuat Mei merasa sehat.”
“Kalau begitu, papa lebih senang kau berada di atas kasur sepanjang hari hingga papa pulang. Biar nanti Mbak Mar yang menjagamu siang ini,” papa meninggalkanku dengan meluapkan amarahnya di sekitar kamarku yang tak sehangat dulu.
Apa salahnya dengan Pras. Dia pria baik, papa saja belum mengenalnya lebih jauh. Sulit meyakinkan pikiran kolot papa yang keras.
Rumah mulai lengang, hanya Mbak Mar yang juga sedang sibuk di dapur menyiapkan makan siangku hari ini. Kuraih tas ranselku yang sudah kupersiapkan tadi malam, kutulis pesan untuk papa di atas kertas.
Pa, Mei tetap pergi untuk 3 hari ini. Tak perlu mencari Mei. Mei akan baik-baik saja.

Aku ke luar rumah dengan mengendap-endap, takut kalau-kalau Mbak Mar mengetahui aksi kaburku. Aku mulai sibuk mengirimkan pesan pada Pras berkali-kali untuk meyakinkan kalau dia memang sudah menunggu di depan gang.
Kuketuk jendela mobil Pras, sebagai tanda kalau aku ingin masuk ke dalam mobil. Pras menyambutku dengan senyumnya yang mengembang, sama halnya denganku. Tak terlukis bahagiaku membayangkan tiga hari bersama Pras, hanya kami berdua tak ada yang lain.

10 april 2010
“Pras yakinkan aku kalau kau memang mencintaiku,” aku merangkul lengan kekar Pras sambil bergelayut manja.
“Ya, aku mencintaimu,” singkat dan dingin. Tak ada lagi kalimat puitis yang biasa Pras berikan kalau sedang memujiku.
“Pras, akankah kita menikah, membina rumah tangga, dan memiliki bayi mungil yang akan kita rawat bersama di rumah sederhana kita,” aku melanjutkan tanyaku, aku yakin Pras menjawab seperti tadi karena dia sedang lelah dengan masalah yang mendera kami. Mulai dari papa, ancaman drop kuliah yang harus dihadapi Pras karena dia jarang hadir mengikuti perkuliahan.

“Mei, aku belum memikirkan ke arah sana, tolong pahami kondisiku sekarang, kau tahu menikah dan punya anak itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit, belum lagi harus menghadapi tingkah konyol keluargama,” Pras menanggapi sinis dan menghempaskan semua mimpiku. Mimpi yang pernah kita bicarakan bersama dulu.
Aku menangis dan tersedan. Kemampuan verbalku habis sudah, aku sedang menggali dan mencari Pras-ku yang dulu. Penuh bunga dan puisi, penuh cinta ketika mengecup kening dan telapak tanganku. Menyabarkanku saat kemarahan papa memuncak. Pras hilang. Aku limbung, tiba-tiba semua gelap.

***

“Mei,” panggilan papa membuatku ingin segera membuka mataku.
“Pras mana?” aku tak menanyakan kondisiku atau mengapa aku bisa tiba-tiba di rumah sakit.
“Pras tidak ada, Ellin yang mengantarmu kemari. Dia bilang kau pingsan saat sedang berbelanja dengannya. Papa mendapat telepon darinya,” jawaban yang tak kuinginkan terucap dari bibir tua pria yang sangat mencintaiku.
Aku membisu, tak dapat berucap. Tiba-tiba papa merangkulku erat, seperti memelukku saat aku berumur lima tahun, dan mama hanya terisak di depan pintu. Kulihat guratan dan kerutan halus disekitar lingkar mata papa, pelupuk matanya basah.
“Katakan pada Mei, ada apa ma?” aku berteriak histeris dan takut mulai menjalar. Mengapa semua orang seolah sedang berduka?”
“Mei, kamu hamil nak,” setengah berbisik mama mengatakan hal yang sudah manakutiku sejak pergi bersama Pras ke puncak satu bulan yang lalu. Tiba-tiba aku gemetar dan menggigil.
“Dimana Pras?” aku berteriak sekuat-kuatnya.
Aku melihat dua orang yang mencintaiku sedang menangis pilu. Aku lupa cara menangis, aku lupa segala sedih dan derita tak tertahan. Benakku berputar dan hanya Pras yang mengelilingi setiap jengkal pikiranku.





20 April 2010

Lelah sudah aku mencari jejakmu. Seperti mencari jarum dalam jerami, sia-sia segala usaha yang kulakukan, bahkan papa berusaha untuk mencari keberadaanmu Pras, sayapku mulai patah. Sayap yang dulu kukembangkan seluas angkasa. Tubuhku mulai membengkak, tak lagi seperti gadis kecil.
Pras, harapanku hanya satu. Aku ingin kau kembali, tak perlu aku uangmu. Tak perlu lagi aku cintamu, tak perlu lagi aku dengan puisimu, peduli apa aku dengan bunga-bungamu. Aku hanya ingin bayi ini dilahirkan dengan ayah disampingnya. Hanya itu, tak ada yang lain.
“Pa, maafkan Mei,” aku bersimpuh di kaki ringkih beliau yang tak kokoh lagi.
“Mei, apa yang harus papa lakukan. Kita tidak pernah tahu seberapa maklum Tuhan atas segala dosa. Mei, apa guna papa marah,” papa berkata, setiap kalimat yang dia keluarkan bergetar.
“Mei harus bagaimana?” entah keberapa kali pertanyaan ini kutanyakan
Papa diam, mama hanya menangis sambil meremas bantal tidak juga ada kalimat yang dapat dikeluarkan olehnya. Kesunyian yang senyap ini mulai membunuhku perlahan, aku tertekan. Kisahku mulai tak berujung. Pras, aku mengutuknya sepanjang malam dan bahkan dalam tidurku.

 1 Mei 2010
Papa dan Mama yang paling Mei cinta.
Maaf jika kata maaf ini tak juga cukup mewakili sakitnya hati kalian, kecewanya hati papa dan mama. Setelah 20 tahun Mei bersama mama dan papa, belum pernah sedikitpun mama dan papa membuat Mei hancur, seperti yang Pras lakukan.
Papa, Mei tidak hanya menghancurkan keinginan papa untuk melihat Mei menjadi diplomat, tidak juga dapat melihat gadis kecil papa menggunakan toga atau hal apa pun yang dapat membanggakan mama dan papa. Batin Mei terlalu rapuh, kesanggupan Mei untuk menerima segala deraan dan cercaan orang lain tak sanggup Mei tanggung. Hati Mei lelah.
Jika suatu hari nanti, papa dan mama menemukan pria yang telah membunuh semua mimpi Mei, papa dan mama. Hanya satu pinta Mei, biarkan Tuhan membalas dengan cara yang indah. Buat Mei merasa bahagia di tempat terakhir Mei. Surat ini tak cukup mewakili rasa cinta mendalam Mei pada mama dan papa. Tapi, sungguh Mei masih gadis kecil mama dan papa sampai kapan pun.
Mei sayang mama dan papa.

Kuletakkan surat yang kutulis semalam di atas kasur putihku. Mataku mulai terpejam perlahan, aku ingin mengakhiri segala sakit di dunia. Biar selesai semua derita yang tak sanggup kuhadapi. Tubuhku terasa lebih ringan, rasaku mulai hilang. Sebelum semua gelap, samar kudengar teriak histeris mama. Lalu hanya gelap.
“Mei........”
(NK-12 Juli 2011)

No comments:

Post a Comment